Jumat, 25 Juni 2010

PAPER

JUDUL :

Dhapnia Sp

Sebagai Pakan Alami

NAMA :

SONI WIBOWO

NRP : 4408418272

PROGRAM STUDI

TEKNOLOGI AKUAKULTUR

SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA

BAB. 1

1.1. Pendahuluan

Pada umumnya dalam membudidayakan Daphnia terkait dengan budidaya pakan alami lainnya terutama budidaya fitoplankton khususnya Chlorella yang merupakan pakan Daphnia. Oleh karenanya kita dapat dikatakan mampu membudidayakan Daphnia jika dapat membudidayakan Chlorella.

1.2. Latar Belakang

Daphnia sp. dikenal sebagai kutu air. Daphnia sp. memiliki ukuran 1-3 mm, tubuh lonjong, pipih, terdapat ruas-ruas/segemn meskipun ruas ini tidak terlihat. Pada bagian kepala terdapat sebuah mata majemuk, ocellus (kadang-kadang), dan lima pasang alat tambahan (Casmuji, 2002), yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut (Mokoginta, 2003). Umumnya cara berenang Daphnia sp. tersendat-sendat (intermitenly), tetapi ada beberapa spesies yang tidak bias berenang dan bergerak dengan merayap karena telah beradaptasi untuk hidup di lumut dan sampah daun-daun yang berasal dari dalam hutan tropik (Suwignyo, 1989 dalam Casmuji 2002).

Bagian tubuh Daphnia sp. tertutup oleh cangkang dari khitin yang transparan.Daphnia sp. mempunyai warna yang berbeda-beda tergantung habitatnya. Spesies daerah limnetik biasanya tidak mempunyai warna atau berwarna muda, sedangkan di daerah litoral, kolam dangkal, dan dasar perairan berwarna lebih gelap. Pigmentasi terdapat baik pada bagian karapas maupun jaringan tubuh (Casmuji, 2002).gambar bentuk tubuh dahapnia.

Pada keadaan baik Daphnia sp. berkembang secara parthenogenesis, dimana individu baru berasal dari telur-telur yang tidak dibuahi. Cara ini hanya menghasilkan individu betian saja dan jumlha telur yang dihasilkan rata-rata 10-20 butir (Edmonson dalam Casmuji, 2002). Pada saat kondidi kurang baik, seperti adanya perubahan temperature, kurangnya makanan dan akumulasi limbah, produksi telur secara parthenogenesis menjadi berkurang bahkan beberapa menetas dan telur berkembang menjadi individu jantan (Hickman, 1967 dalam Casmuji, 2002). Dengan munculnya Daphnia jantan, maka populasi mulai bereproduksi secara seksual.

1.3. Batasan Masalah

Daphnia merupakan salah satu pakan alami yang penting dalam kegiatan pembenihan ikan konsumsi dan ikan hias air tawar. Dalam Paper Budidaya Daphnia akan dipelajari tentang identifikasi Daphnia,bagaimana menyiapkan wadah dan media untuk budidaya Daphnia,bagaimana cara memelihara Daphnia, seperti identifikasi dan inokulasi,pemupukan dan pemberian pakan serta pemanenan.

BAB 2

Pembahasan

2.1 Klasifikasi dan Morfologa Daphnia sp

Daphnia sp. dikenal sebagai kutu air. Klasifikasi Daphnia sp. menurut Pennak (1953) dan Ivleva (1973) dalam Casmuji (2002) adalah sebagai berikut:

Kelas : Crustacea

Subkelas : Branchiopoda

Divisio : Oligobranchiopoda

Ordo : Cladocera

Famili : Daphnidae

Genus : Daphnia

Spesies : Daphnia sp.

Daphnia sp. memiliki ukuran 1-3 mm, tubuh lonjong, pipih, terdapat ruas-ruas/segemn meskipun ruas ini tidak terlihat. Pada bagian kepala terdapat sebuah mata majemuk, ocellus (kadang-kadang), dan lima pasang alat tambahan (Casmuji, 2002), yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut (Mokoginta, 2003). Umumnya cara berenang Daphnia sp. tersendat-sendat (intermitenly), tetapi ada beberapa spesies yang tidak bias berenang dan bergerak dengan merayap karena telah beradaptasi untuk hidup di lumut dan sampah daun-daun yang berasal dari dalam hutan tropik (Suwignyo, 1989 dalam Casmuji 2002).

Bagian tubuh Daphnia sp. tertutup oleh cangkang dari khitin yang transparan.Daphnia sp. mempunyai warna yang berbeda-beda tergantung habitatnya. Spesies daerah limnetik biasanya tidak mempunyai warna atau berwarna muda, sedangkan di daerah litoral, kolam dangkal, dan dasar perairan berwarna lebih gelap. Pigmentasi terdapat baik pada bagian karapas maupun jaringan tubuh (Casmuji, 2002).gambar bentuk tubuh dahapnia.

Daphnia sp. adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam-kolam atau danau-danau. Daphnia sp. Dapat hidup di daerah tropis dan subtropis. Kehidupan Daphnia sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp. dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk dalam ketegori hewan eutitropik dan tahan terhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang dapat ditolerir bervariasi sesuai adaptasinya pada lingkungan tertentu (Mokoginta, 2003).

Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai lewat jenuh. KetahananDaphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen mungkin disebabkan oleh kemampuannya dalam mensintesis haemoglobin. Dalam kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen lingkungannya. Naiknya kandungan haemoglobin dalam darah Daphnia sp. dapat juga diakibatkan oleh naiknyatemperatur, atau tingginya kepadatan populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm (Mokoginta, 2003).

Daphnia sp. hidup pada kisaran pH cukup besar, tetapi nilai pH yang optimal untuk kehidupannya sukar ditentukan. Lingkungan perairan yang netral dan relatif basah yaitu pada pH 7,1 – 8,0 baik untukpertumbuhannya. Pada kandungan amoniak antara 0,35 – 0,61 ppm, Daphnia sp. masih dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik (Mokoginta, 2003).

Pada keadaan baik Daphnia sp. berkembang secara parthenogenesis, dimana individu baru berasal dari telur-telur yang tidak dibuahi. Cara ini hanya menghasilkan individu betian saja dan jumlha telur yang dihasilkan rata-rata 10-20 butir (Edmonson dalam Casmuji, 2002). Pada saat kondidi kurang baik, seperti adanya perubahan temperature, kurangnya makanan dan akumulasi limbah, produksi telur secara parthenogenesis menjadi berkurang bahkan beberapa menetas dan telur berkembang menjadi individu jantan (Hickman, 1967 dalam Casmuji, 2002). Dengan munculnya Daphnia jantan, maka populasi mulai bereproduksi secara seksual.

Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas didalam ruang pengeraman. Setelah dua kali instar pertama, anakDaphnia sp. yang bentuknya mirip Daphnia sp. dewasa dilepas dari ruang pengeraman. Jumlah instar pada stadium anak ini hanya dua sampai lima kali, tetapi tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada stadium ini (Mokoginta, 2003).

Periode remaja adalah instar tunggal antara instar anak terakhir dan instar dewasa pertama. Pada periode ini sekelompok telur pertama mencapai perkembangan penuh di dalam ovarium. Segera setelah Daphnia sp. ganti kulit pada akhir instar remaja memasuki instar dewasa pertama, sekelompok telur pertama dilepaskan ke ruang pengeraman. Selama instar dewasa pertama, kelompok telur kedua berkembang di ovarium dan seterusnya. Namun adakalanya terdapat periode steril pada Daphnia sp. tua (Casmuji, 2002).

Pertambahan panjang dan bobot Daphnia sp. Selama pertumbuhan cukup pesat, terutama setelah ganti kulit. Selama instar anak terjadi pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum ganti kulit. Sedangkan pertambahan volume terjadi dalam beberapa detik atau menit sebelum eksoskeleton baru mengeras dan kehilangan elastisitasnya. Pada akhir setiap instar Daphnia sp. dewasa terdapat peristiwa berurutan yang berlangsung cepat, biasanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam, yaitu :

(1) Lepasnya atau keluarnya anak dari ruang pengeraman;

(2) Ganti kulit (molting);

(3) Pertambahan ukuran;

(4) Lepasnya sekelompok telur baru ke ruang pengeraman;

Daphnia sp. termasuk hewan filter feeder, memakan berbagai macam macam bakteri, ragi, alga bersel tunggal, detritus, dan bahan organic terlarut (Rodinadalam Casmuji, 2002). Daphnia sp. muda berukuran panjang kurang dari satu millimeter menyaring partikel kecil ukuran 20-30 mikrometer, sedangkan yang dewasa dengan ukuran 2-3 mm dapat menagkap partikel sebesar 60-140 mikrometer (Fasil’eva dalam casmuji, 2002).

2.2 Budidaya Daphnia sp.

Salah satu metode kultur Daphnia sp. yang sering digunakan adalah metodde pemupukan. Pupuk yang digunakana adalah pupuk organik dan anorganik (Ivleva, 1973 dalam Casmuji, 2002). Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber makanan secara langsung untuk Daphnia sp. dan organism makanan ikan lainnya atau diuraikan oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton (Boyd, 1982 dalamCasmuji, 2002).

Pupuk organik yang bisa digunakan untuk kultur Daphnia sp adalah kotoran aym, kotoran sapi, kotoran babi, kotoran kambing/domab, da kotoran kuda. Namum , dari berbagai jenis kotoran tersebut menurut Kadarwan (1974)dalam Casmuji (2002) kotoran ayam dianggap lebih baik daripada kotoran kandang lainnya.

Tabel 1 Kandungan unsur-unsur hara pada beberapa pupuk kandang

Jenis

Kadar (%)

Nitrogen

Phosphor

Kalium

Bahan organik

Kotoran ayam

4

3.2

1.9

74

Kotoran kambing

2.77

1.78

2.88

60

Kotoran domba

2

1

2.55

60

Kotoran babi

1

0.75

0.85

30

Kotoran kuda

0.7

0.34

0.52

60

Kotoran sapi

0.7

0.3

0.65

30

Untuk pemupukan dengan kotoran ayam dosis awal yang diberikan yaitu sebanyak 500 g/m3 dan 250 g/m3 setiap hari (Shpet dalam Casmuji, 2002). Sedangkan menurut Suprayitno (1986) dalam Casmuji (2002) untuk mendapatkan media kultur yang baik kotoran ayam kering yang digunakan untuk kultur Daphnia sp. adalah 2-5 g/l air. Di bawah ini dijelaskan metode budidaya daphnia (Darmanto dkk., 2000).

Bahan-bahan yang diperlukan :

a. Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.

b. Pupuk organik, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos (kebutuhan masing-

c. masing 1-1,5 kg/m3 air media).

d. Kantong waring untuk tempat pupuk dan tali pengikat.

Prosedur :

a. Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media dan menghindarkan Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari.

b. Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.

c. Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam kantong waring, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya.

d. Satu hari kemudian masukkan bibit Daphnia sebanyak 5 gram/m3.

2.2 Pengkayaan Daphnia sp.

Pengkayaan daphnia salah satunya dapat menggunakan viterna yang merupakan suplemen yang berasal dari berbagai macam bahan alami yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan mempercepat pertumbuhan (Wisnu, 2007 dalam Mufidah dkk., 2009). Pengkayaan tersebut bertujuan untuk menambah nutrisi Daphnia yang diharapkan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva. Nilai nutrisi yang terkandung dalam Daphnia berat basah adalah 4 % protein (Schumann, 2006dalam Mufidah dkk., 2009), 0,54 % lemak dan 0,67 % karbohidrat (Wahyu, 2007 dalam Mufidah dkk., 2009). Sedangkan, nutrisi viterna adalah 42,82 % protein, 47,31 % karbohidrat, 4,5 % lemak, 2,74 % mineral dan 2,63 % vitamin (Fauzan, 2004 dalam Mufidah dkk., 2009).

Daphnia mempunyai sifat non-selective filter feeder yaitu menyaring semua makanan yang ada tanpa memilih, sehingga viterna yang telah diberikan dalam media pemeliharaannya akan dimakan atau diserap oleh Daphnia. Selanjutnya, Daphnia yang telah diperkaya dengan viterna akan dimakan oleh larva (Mufidah dkk., 2009).

Wisnu (2007) dalam Mufidah dkk. (2009) menyatakan, dosis viterna untuk pertumbuhan ikan sebanyak 12,5 ml yang dilarutkan dalam 250 ml air, kemudian dicampur pakan buatan (pellet) sebanyak 2-3 kg pakan. Pakan tersebut diberikan terhadap ikan lele, gurami dan nila. Pemberian pakan buatan (pellet) yang telah dicampur dengan viterna bertujuan untuk menggemukan ikan, daging ikan menjadi padat dan pertumbuhan ikan sangat cepat serta ekonomis.

Penelitian pendahuluan menggunakan viterna dengan beberapa dosis yaitu 10 ml/L air, 50 ml/L air, 100 ml/L air, 200 ml/L air dan kontrol (tanpa penambahan viterna) dan lama pengkayaan 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam dan 12 jam. Viterna tersebut dimasukan dalam media pemeliharaan terlebih dahulu agar tercampur merata dengan air sebagai media pemeliharaan Daphnia. Selanjutnya, Daphnia dimasukkan ke dalam media pemeliharaan dengan populasi berkisar antara 500 ekor/L air. Selanjutnya, dilakukan pengamatan setiap 2 jam sekali. Pengamatan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Hasil dari penelitian pendahuluan didapatkan, pada 4 jam pengkayaan hasil yang diperoleh adalah ususDaphnia terisi penuh viterna dengan populasi Daphnia yang meningkat terutama pada dosis 10 ml dan 50 ml. Isi usus Daphnia spp. pada jam keempat (Mufidah dkk., 2009)

2.2 Pemeliharaan Budidaya Daphnia

Agar Daphnia yang dipelihara dalam wadah budidaya tumbuh dan berkembang harus dilakukan pemberian pupuk susulan yang berfungsi untuk menumbuhkan mikroorganisme sebagai makanan Daphnia. Pemupukan susulan adalah pemupukan yang dimasukkan kedalam media kultur selama pemeliharaan pakan alami Daphnia dengan dosis 50 – 100 % dari dosis pemupukan pertama yang sangat bergantung kepada kondisi media kultur. Pemupukan tersebut sangat berguna bagi pertumbuhan phytoplankton, detritus, fungi dan bakteri yang merupakan makanan utama dari pakan alami Daphnia.

Selama dalam pemeliharaan tersebut harus terus dilakukan pemupukan susulan seminggu sekali atau dua minggu sekali dengan dosis yang bergantung kepada kondisi media kultur , biasanya dosis yang digunakan adalah setengah dari pemupukan awal. Pakan alami Daphnia mempunyai siklus hidup yang relatif singkat yaitu 28 – 33 hari. Oleh karena itu agar pembudidayaannya bisa berlangsung terus menerus harus selalu diberikan pemupukan susulan. Dalam memberikan pemupukan susulan ini caranya hampir sama dengan pemupukan awal dan ada juga yang memberikan pemupukan susulannya dalam bentuk larutan pupuk yang dicairkan.

Fungsi utama pemupukan susulan adalah untuk menumbuhkan pakan yang dibutuhkan oleh Daphnia agar tumbuh dan berkembang. Berdasarkan kebutuhan pakan bagi Daphnia tersebut ada dua metode yang biasa dilakukan oleh pembudidaya yaitu Detrital system dan Autotrophic system. Detrital System adalah penggunaan pupuk kandang kering yang dimasukkan dalam media kultur Daphnia sebanyak 450 gram dalam 1000 liter air dan dilakukan pemupukan susulan dengan dosis 50 – 100% dari pemupukan pertama yang diberikan seminggu sekali. Selain itu untuk mempercepat tumbuhnya bakteri, fungi, detritus dan beragam phytoplankton ditambahkan dedak dan ragi dosis yang digunakan adalah 450 gram kotoran ayam kering ditambah 112 gram dedak dan 22 gram ragi kedalam 1000 liter media kultur.

Autotrophic system adalah sistem dalam budidaya Daphnia dimana pakan yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembangnya Daphnia tersebut dikultur secara terpisah dengan media kultur Daphnia. Phytoplakton yang dibutuhkan dibudidayakan sendiri dan didalam media kultur Daphnia tersebut ditambahkan campuran beberapa vitamin dan ditambahkan dedak. Komposisi campuran vitamin dapat dilihat pada Tabel 7.6. Dosis campuran vitamin tersebut adalahsatu mililiter larutan digunakan untuk satu liter media kultur. Selain campuran vitamin didalam media kultur pakan alami Daphnia juga ditambahkan larutan dedak dengan dosis 50 gram dedak ditambahkan dengan 1 liter air lalu diblender dan diaduk selama satu menit, larutan tersebut disaring dengan menggunakan saringan kain yang berdiameter 60 μm. Suspensi tersebut diberikan kewadah yang berisi media kultur Daphnia, satu gram dedak biasanya digunakan untuk 500 ekor Daphnia setiap dua hari sekali.

Frekuensi pemupukan susulan ditentukan dengan melihat sampel air didalam media kultur , parameter yang mudah dilihat adalah jika transparansi kurang dari 0,3 m didalam media kultur. Hal ini dapat dilihat dari warna air media yang berwarna keruh atau warna bening. Jika hal tersebut terjadi segera dilakukan pemupukan susulan. Jenis pupuk yang digunakan sama dengan pemupukan awal. Langkah kerja dalam melakukan pemupukan susulan adalah :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan sebelum melakukan pemupukan susulan.

2. Amati warna air didalam media kultur, catat dan diskusikan !

3. Tentukan jenis pupuk dan dosis yang akan digunakan dalam pemupukan susulan !

4. Hitunglah kebutuhan pupuk yang akan digunakan sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan !

5. Timbanglah pupuk sesuai dengan dosis pupuk yang telah dihitung !

6. Masukkan pupuk kedalam kantong/karung plastik dan ikat serta dimasukkan kedalam media kultur, jika pemupukan susulan akan dilakukan dengan membuat larutan suspensi pupuk juga dapat dilakukan. Cara pembuatan larutan suspensi pupuk ini dengan menambahkan air kedalam pupuk dan disaring lalu ditebarkan larutan tersebut kedalam media kultur.

2.2 Pemantauan Pertumbuhan Daphnia

Daphnia yang dipelihara dalam media kultur yang tepat akan mengalami pertumbuhan yang cepat. Secara biologis Daphnia akan tumbuh dewasa pada umur empat hari, jika pada saat inokulasi yang ditebarkan adalah bibit Daphnia yang dewasa maka dalam waktu dua hari bibit Daphnia tersebut sudah mulai beranak, karena periode maturasi daphnia pada media yang mempunyai suhu 25o C adalah dua hari. Jumlah anak yang dikeluarkan dari satu induk bibit Daphnia adalah sebanyak 29–30 ekor, yang dikeluarkan dengan selang waktu dua hari. Daur hidup Daphnia adalah 28–33 hari dan Daphniamenjadi dewasa hanya dalam waktu empat hari, sehingga bisa diperhitungkan prediksi populasi Daphnia didalam media kultur.

Berdasarkan siklus hidup Daphnia maka kita dapat menentukan waktu yang tepat untuk dilakukan pemanenan sesuai dengan kebutuhan larva atau benih ikan yang akan mengkonsumsi pakan alami Daphnia. Ukuran Daphnia yang dewasa dan anak-anak berbeda oleh karena itu perbedaan ukuran tersebut sangat bermanfaat bagi ikan yang akan mengkonsumsi dan disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut larva.

Pemantauan pertumbuhan pakan alami Daphnia di media kultur harus dilakukan agar tidak terjadi kapadatan populasi yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi didalam media. Hal tersebut diakibatkan oleh kurangnya oksigen didalam media kultur. Tingkat kepadatan populasi yang maksimal didalam media kultur adalah 1500 individu perliter, walaupun ada juga yang mencapai kepadatan 3000 – 5000 individu perliter.

Untuk mengukur tingkat kepadatan populasi Daphnia didalam media kultur dilakukan dengan cara sampling beberapa titik dari media, minimal tiga kali sampling. Sampling dilakukan dengan cara mengambil air media kultur yang berisi Daphnia dengan menggunakan baker glass atau erlemeyer. Hitunglah jumlah Daphnia yang terdapat dalam botol contoh tersebut, data tersebut dapat dikonversikan dengan volume media kultur.

2.2 Pemanenan Daphnia

Pakan alami yang telah dibudidayakan di media kultur bertujuan untuk diberikan kepada larva/benih yang dipelihara. Kebutuhan larva/benih ikan akan pakan alami Daphnia selama pemeliharaan adalah setiap hari. Oleh karena itu waktu pemanenan pakan alami itu sangat bergantung kepada kebutuhan larva/benih akan pakan alami Daphnia. Pemanenan pakan alami Daphnia ini dapat dilakukan setiap hari atau seminggu sekali atau dua minggu sekali. Hal tersebut bergantung kepada kebutuhan suatu usaha terhadap ketersediaan pakan alami Daphnia.
Pemanenan pakan alami Daphnia yang dilakukan setiap hari biasanya jumlah yang dipanen adalah kurang dari 20% . Pemanenan Daphnia dapat juga dilakukan seminggusekali atau dua minggu sekali sangat bergantung kepada kelimpahan populasi Daphnia di dalam media kultur. Untuk menghitung kepadatan daphnia pada saat akan dilakukan pemanenan, dapat dilakukan tanpa menggunakan alat pembesar atau mikroskop. Daphnia diambil dari dalam wadah, yang telah diaerasi agak besar sehingga daphnia merata berada di seluruh kolom air, dengan memakai gelas piala volume 100 ml. Daphnia dan air di dalam gelas piala selanjutnya dituangkan secara perlahan-lahan sambil dihitung jumlah daphnia yang keluar bersama air.

Apabila jumlah daphnia yang ada sangat banyak, maka dari gelas piala 100 ml dapat diencerkan, caranya adalah dengan menuangkan kedalam gelas piala 1000 ml dan ditambah air hingga volumenya 1000ml.Dari gelas 1000 ml, lalu diambil sebanyak 100 ml. Daphnia yang ada dihitung seperti cara diatas, lalu kepadatan di dalam wadah budidaya dapat diketahui dengan cara mengalikan 10 kali jumlah didalam gelas 100 ml. Sebagai contoh, apabila di dalam gelas piala 100 ml terdapat 200 ekor daphnia, maka kepadatan daphnia diwadah budidaya adalah 10 X 200 ekor = 2000 individu per 100 ml.

Pemanenan Daphnia dapat dilakukan berdasarkan siklus reproduksinya, dimana Daphnia akan menjadi dewasa pada umur empat hari dan dapat beranak selang dua hari sekali, maka dapat dipredeksi kepadatan populasi Daphnia didalam media kultur jika padat tebar awal
dilakukan pencatatan. Daphnia dapat berkembangbiak tanpa kawin dan usianya relative singkat yaitu 28 – 33 hari

Pemanenan dapat dilakukan pada hari ke tujuh – sepuluh jika populasinya sudah mencukupi, pemanenan tersebut dilakukan dengan cara menggunakan seser halus. Waktu pemanenan dilakukan pada pagi hari disaat matahari terbit, pada waktu tersebut Daphnia akan
banyak mengumpul dibagian permukaan media untuk mencari sinar. Dengan tingkahlakunya tersebut akan sangat mudah bagi para pembudidaya untuk melakukan pemanenan. Daphnia yang baru dipanen tersebut dapat digunakan langsung untuk konsumsi larva atau benih ikan.

Daphnia yang sudah dipanen tersebut dapat tidak secara langsung diberikan pada larva dan benih ikan hias yang dibudidayakan tetapi dilakukan penyimpanan. Cara penyimpanan Daphnia yang dipanen berlebih dapat dilakukan pengolahan Daphnia segar menjadi beku .
Proses tersebut dilakukan dengan menyaring Daphnia dengan air dan Daphnianya saja yang dimasukkan dalam wadah plastic dan disimpan didalam lemari pembeku (Freezer).

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Daphnia yang dipelihara dalam media kultur yang tepat akan mengalami pertumbuhan yang cepat. Secara biologis Daphnia akan tumbuh dewasa pada umur empat hari, jika pada saat inokulasi yang ditebarkan adalah bibit Daphnia yang dewasa maka dalam waktu dua hari bibit Daphnia tersebut sudah mulai beranak, karena periode maturasi daphnia pada media yang mempunyai suhu 25o C adalah dua hari. Daphnia yang sudah dipanen tersebut dapat tidak secara langsung diberikan pada larva dan benih ikan hias yang dibudidayakan tetapi dilakukan penyimpanan.


PEMBENIHAN IKAN GURAME

PAPER

JUDUL :

PEMBENIHAN IKAN GURAME

(Osphronemus gouramy)

NAMA :

SONI WIBOWO

NRP :

4408418272

PROGRAM STUDI

TEKNOLOGI AKUAKULTUR

SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA

PAPER

JUDUL :

PEMBENIHAN IKAN GURAME

(Osphronemus gouramy)

NAMA :

SONI WIBOWO

NRP :

4408418272

PROGRAM STUDI

TEKNOLOGI AKUAKULTUR

SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA



KATA PENGANTAR

Ahamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas paper yang berjudul PEMBENIHAN IKAN GURAME(Osphronemus gouramy), dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Tujuan pembuatan paper ini adalah agar taruna/I dapat mengetahui pembenihan ikan gerame. Ucapan terima kasih penulis haturkan sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Aef Permadi Api Msi selaku ketua Sekolah Tinggi Perikanan

2. Bapak Sinung Rahardjo, S.Pi, M.Si selaku ketua jurusan Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Perikanan

3. Ibu ratna selaku ketua Program Studi Teknologi Akuakultur

4. Ibu Ir,Hj, Insani Goenawati selaku Dosen Pembimbing

5. Seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah bersedia membantu penulis dalam menyelesaikan tugas paper ini.

Demikianlah tugas paper ini penulis buat,penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan dalam penyusunan tugas paper yang akan datang.

Penulis.

Jakarta 15,juni 2010

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………………………i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………………….ii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………………………………………………iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………..1

1.2 Tujuan……………………………………………………………………………………………………………………2

1.3 Batasan masala………………………………………………………………………………………………………2

BAB 2. Biologi Ikan Gurami

2.1 Klasifikasi Ikan Gurami……………………………………………………………………………………………3

2.2 Morfologi Ikan Gurami……………………………………………………………………………………………4

2.3 Distribusi Ikan Guram………………………………………………………………………………4

2.4 Siklus Hidup…………………………………………………………..

2.5 Kebiasaan Makan…………………………………………………………………………………………………6

BAB 3. Teknik Pemeliharan, Pemijahan Induk, Penetasan Telur…………………………………………….

3.1 Pemilihan Induk Siap Pija…………………………………………………………………………………………7

3.2 Pemeliharaan Induk………………………………………………………………………………………………..8

3.3 Pemijahan…………………….

3.4 Penetasan Telur……………………………………………………………………………………………………11

3.4.1 Penetasan Dikolam Pemijahan………………………………………………………………..13

3.4.2 Penetasan Didalam Paso Atau Baskom……………………………………………………14

3.4.3 Penetasan Didalam Akuarium…………………………………………………………………14

BAB 4. Pemeliharaan larva…………………………………………………………………………………………………17

2.1 Pemberian Pakan Alami dan Buatan……………………………………………………….18

2.2 Vaksinasi…………………………………………………………………………………………………18

2.3 Pengunaan Sumber Air yang Bersih…………………………………………………………19

2.4 Aerasi………………………………………………………………………………………………………19

2.5 Pemberian Naungan……………………………………………………………………………….20

2.7 Pemeliharaan Benih……………………………………………………………………………………………….20

BAB 5. PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………………….22

DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman

1. Bentuk Dan bagian tubuh ukan gurame (Osphronemus gouramy)…………………...5

2. Sarang (sosog) tempat gurame meletakan telur………………………………………9

3. Tahapan penetasan telur gurame……………………………………………………13

4. Larva gurame yang masih memiliki kuning telur……………………………………17

5. Benih gurame………………………………………………………………………..22


PAPER

Nama : Soni Wibowo

NRP : 4408418272

Judul : Upaya Pengadaan Larfa

Program Studi : Teknologi Akuakultur

Jurusan : Teknologi Pengolahan Sumberdaya Perairan

Menyetujui :

( Ir,Hj, Insani Goenawati )

Dosen Pembimbing

Mengetahui :

Sinung Rahardjo, S.Pi, M.S Dra. Ratna Suharti

Ketua Jurusan TPS Ketua Program studi TAK

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gurame (Osphrenemus gouramy) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang banyak di pilih petani untuk di pelihara. Keunggulan gurami bagi petani antara lain ikan ini dapat berbiak secara alami, mudah dipelihara kerena bersifat pemakan apa saja, dan dapat hidup di air tergenang. Selain itu, harganya relatif mahal. Habitat asli gurami adalah rawa dataran rendah yang berair dalam. Ikan ini berifat sangat peka terhadap suhu dan memiliki organ pernafasan tambahan sehingga dapat mengambil oksigen dari luar air.

Beberapa kemudahan tersebut merupakan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, sebap ongkos pemeliharaanya, khususnya pemberian pakan yang berupa dedaunan, relatif murah dan mudah di dapat. Ikan gurame juga memiliki ketahanan tubuh yang baik dari berbagai penyakit, lebih-lebih bila linkunganya di perhatikan. Ikan gurame secara alamia melangsugkan pemijahan pada musim kemarau. Bila di pelihara di kolam, ikan gurame tidak terlalu menuntut persyratan lingkungan hidup yang rumit, sehingga dapat di pelihara di kolam sederhana atau kolam perkarangan yang berpengairan sedikit.

Pembenihan ikan gurami hasil penetasan dari telur-yang baik merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan pemeliharaan gurami. Untuk mendapatkan larva yang berkualitas baik, maka sebaiknya para pembudidaya atau petani ikan harus mengetahui tentang teknis pemilihan dan perawatan induk sampai pemeliharaan larva.

Untuk menghasilkan benih gurami yang baik dalam arti banyak anakan yang hidup dan mutu benih yang terjamin (sehat, normal, pertumbuhan badan seragam, bongsor), yang harus kita perhatikan mulai dari pemilihan induk sampai dengan pemeliharaan larva. Pemilihan induk yang berkualitas atau mutuh induk yang baik sangat berpengaru terhadap benih atau larva yang dihasilkan.

1.2 Tujuan

Tujuan pembuatan paper ini adalah agar kita dapat mengetahui carah/teknik untuk menghasilkan benih atau larva ikan gurami yang baik serta dapat mengetahui teknik perawatan induk dari gurami yang berkulitas, sertan kita dapat mempelejari dan menerapkan sistem penyiapan benih yang baik.

BAB 2.

Biologi Ikan Gurami

2.1 Klasifikasi Ikan Gurami

Sebagai ikan budidaya (kultur) ternyata gurami tidak hadir sendirian. Ia hadir bersama kerabatnya yang berasal dari keluarga pemilik labirynth, yaitu organ orisinil pendamping insang insang yang memungkinkan mereka hidup dan berkembang pada lingkungan yang miskin oksigen, pada air tergenang. Ternyata, banyak pula diantaranya yang hadir di akuarium sebagai ikan hias. Mereka dipajang karena mempunyai potensi untuk itu, indah warnanya dan lucu bentuknya.

Menyimak asal usul gurami. Ternyata mereka mempunyai rihwayat yang lumayan panjang. Menurut sistematika ikan yang di kemukakan Bleeker dan sudah diperbaiki oleh Sunier, Waber dan de Beaufort, maka daftarnya sebagai berikut :

Filum : Chordata ( hewan bertulang belakang )

Kelas : Pisces ( bangsa ikan yang mempunyai insang untuk bernafas )

Ordo : Labirintchi (mempunyai satu sirip punggung dan mampu mengamil dari udara di luar air, mempunyai alat labirinth )

Sub ordo : Anabantoidae ( sirip puggung dan sirip perut dengan satu atau lebih jari-jari keras : sirip perut dengan lima atau kurang dari lima jari-jari keras, atau hanya satu jari-jari : rongga diatas rongga insang beralat labirint

Famili : Anabantidae ( badan gepeng, agak panjang, hidung pendek, mulut kecil, lubang insang sempit karena bagian gabungan daun insang lebar, jari-jari keras, sirip punggung dan sirip dubur berbedaa jumlanya : sirip dubur panjang )

Genus : Osphronemus ( permulaan sirip punggung belakang dan sirip dada : sirip punggung lebih pendek dari pada sirip dubur : sirip perut dengan satu jari jari keras dan lima jari-jari lemah : sisik etrsusun rata : garis rusuk lengkap dengan tidak terputus-putus )

Species : Osphonemus gouramy lacepede ( sisik garis rusuk 30-33 ; dorsal XII-XIII. 11-13 ; Anal IX-XI 19-21 ; Pectorial 2.13-14 ; Ventral 1,5

Nama Ingris : Gourami

Nama Indonesia : Gurami, Gurame, Gurameh, Kalui, Kali

2.2 Morfologi Ikan Gurami

Ikan gurami mempunyai bentuk tubuh agak panjang, lebar atau pipih ke samping (compressed), badan tertutup oleh sisik yang besar sehingga terlihat kasar dan kuat. Pada bagian kepala ikan gurame muda berbentuk lancip dan akan menjadi dempak setelah dewasa dan terdapat tonjolan seperti cula pada ikan jantan (Respati dan Santoso, 1992).

Warna ikan gurame pada umumnya biru kehitam-hitaman dan bagian perut berwarna putih, warna tersebut akan berubah menjelang dewasa. Pada bagian punggung berwarna kecoklat-coklatan atau kekuningan, memiliki sepasang sirip perut yang telah mengalami perubahan menjadi sepasang benang yang panjang dan berfungsi sebagai alat peraba. Ikan ini memiliki labirin sehingga tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang oksigen (Asmawi, 1984).

Bagian ujung sirip punggung dan ujung sirip dubur dapat mencapai pangkal anus dan sirip ekor berbentuk busur (rounded). Pada ikan gurame betina terdapat tanda hitam (black spot) di depan pangkal ekor. Sirip yang keras menempel pada bagian punggung, sedangkan letak garis rusuknya menyilang di bagian bawah sirip punggung (Respati dan Santoso, 1992). Selain sirip punggung dan sirip dubur ternyata sirip ekor dan sirip perut juga mempunyai jari-jari lemah yang mengeras. Rumus jari- jari ikan gurame adalah D.XII- XIII. 11-13, P.2. 13-14, V.1.5.A.IX-XI dan C.I.30-33. Angka Romawi menunjukan jumlah jari –jari sirip keras, sedangkan angka arab menunjukan jumlah jari-jari lemah. Angka arab yang terletak pada sebelah depan mengisyaratkan jumlah jari-jari lemah mengeras. Jari-jari keras tidak berbuku-buku, keras dan tidak dapat dibengkokan, sedangkan jari-jari lemah bentuknya seperti tulang rawan, beruas-ruas dan elastis. Morfologi ikan gurami terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Bentuk Dan bagian tubuh ukan gurame (Osphronemus gouramy)

2.3 Distribusi Ikan Guram

Dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya, ikan gurami dapat dianggap memiliki keunggulan baik dari segi harga maupun permintaan konsumen sehingga dari segi persaingan dirasakan tidak ada masalah. Sementara itu permintaan yang cukup besar belum dapat dipenuhi dari produksi ikan gurami yang ada. Hal ini disebabkan oleh belum intensifnya teknologi budidaya ikan gurami. Dengan demikian, walaupun hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, peluang pasar masih terbuka.

2.3.1 Jalur Pemasaran

Terdapat berbagai pihak yang terlibat dalam pemasaran ikan gurami mulai dari pembudidaya gurami (baik pembenih maupun pembesar), pengepul, banda, pedagang besar, pengecer dan konsumen. Pengepul adalah pedagang yang mengumpulkan atau membeli ikan gurami dari petani sedang bandar adalah pedagang pengumpul dengan modal dan skala usaha lebih besar dari pada pengepul. Selain dapat membeli gurami langsung dari petani, bandar juga dapat mengumpulkan gurami dari pengepul. Pedagang besar juga merupakan pedagang pengumpul, namun bergerak di sektor bisnis yang lebih luas, berbadan hukum dan telah terorganisir seperti pasar swalayan, supermarket dan supermarket grosir. Pengecer adalah pedagang lapak, pemilik kios, tukang sayur, hotel, restoran, katering, supermarket dan supermarket grosir. Konsumen adalah konsumen akhir yang membeli gurami untuk dikonsumsi dan tidak dijual lagi (Tim Lentera, Cermat dan Tepat Memasarkan Gurami, 2003).

Pemasaran benih ikan dan ikan gurami konsumsi dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pada jalur pemasaran benih, pemasaran secara langsung dilakukan oleh petani pembenih kepada petani pembesar ikan, sedangkan pada jalur pemasaran ikan gurami konsumsi dilakukan oleh petani pembesar kepada konsumen akhir (misalnya konsumen rumah tangga di pasar). Pemasaran tidak langsung dilakukan melalui lembaga perantara (pengepul, bandar, pedagang besar dan pengecer). Pola distribusi secara tidak langsung bervariasi dapat menggunakan satu sampai empat lembaga perantara. Sehingga, karena pada setiap cabang pemasaran pelaku mengambil keuntungan, maka dengan semakin panjangnya jalur distribusi pemasaran mengakibatkan harga ikan gurami yang diterima konsumen akhir menjadi semakin tinggi.

2.3.2 Pemasaran benih

Benih yang dihasilkan oleh pendeder dapat langsung di jual kepada pembesar ikan yang menjadi langganannya secara langsung atau melalui pedagang parantara. Penjualan benih biasanya disertai jaminan terhadap resiko kematian selama beberapa waktu tertentu (biasanya 1 sampai dengan 2 minggu), tergantung kesepakatan antara pembeli dengan penjual. Transaksi penjualan benih dapat dilakukan di pasar ikan atau di kolam ikan. Biasanya permintaan benih meningkat setelah hari raya yaitu untuk memenuhi kebutuhan benih yang akan dibesarkan setelah ikan gurami ukuran konsumsi habis di panen untuk hari raya.

Adapun jalur pemasaran benih ikan gurami oleh pembudidaya di Banyumas Utara adalah sebagai berikut : pendeder menjual berupa telur kepada pembudidaya di Jawa Timur sedangkan benih ikan di jual kepada produsen ikan gurami konsumsi di Banyumas Selatan yang merupakan wilayah usaha pembesaran. Disana ikan gurami mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan di Banyumas Utara yang merupakan wilayah usaha pendederan (lihat pembagian wilayah pada Box 1). Setelah mencapai ukuran konsumsi, ikan gurami konsumsi (GK) dijual kembali kepada pendeder yang sekaligus berusaha sebagai penjual ikan. Biasanya ikan gurami konsumsi akan dikarantina dan diberokan dulu di kolam pemberokan sebelum di jual kepada pengecer di Jawa Barat. Pola jual beli ikan seperti ini tidak berdasarkan pada suatu perjanjian tertulis, namun dapat menjamin pasokan pedagang karena pedagang ikan biasanya telah mempunyai pelanggap tetap.

2.3.3 Pemasaran gurami konsumsi

Ikan gurami konsumsi di jual dari pembudidaya kepada pedagang pengumpul untuk selanjutnya di jual kepada pengecer yang diteruskan kepada konsumen akhir. Namun demikian ada kalanya pembudidaya ikan langsung menjual kepada konsumen akhir. Biasanya penjualan ikan gurami konsumsi meningkat pada saat perayaan hari-hari besar.

Waktu penjualan ikan gurami ditentukan oleh kebutuhan pembudidaya terhadap uang dan atau permintaan pasar. Apabila petani membutuhkan uang maka dia akan menjual ikannya walaupun belum mencapai ukuran konsumsi. Demikian juga halnya apabila ada permintaan pasar untuk ikan ukuran tertentu akan dijual sepanjang tercapai kesepakatan harga. Hal ini sangat dimungkinkan terutama pada usaha pendederan karena ikan gurami dapat dijual pada berbagai ukuran. Sehingga pembudidaya tidak selalu memelihara benih ikan dengan ukuran yang sama setiap periode pemeliharaan tergantung pada kebutuhan keuangannya dan permintaan pasar.

2.3.4 Kendala Pemasaran

Penetapan waktu menjual yang ditentukan oleh kebutuhan keuangan petani dapat mengakibatkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pembudidaya karena kebutuhan yang mendesak akan memperlemah posisi tawar mereka sehingga dapat mengakibatkan penjualan ikan dengan tingkat harga yang lebih rendah. Apalagi apabila pemasaran ikan dilakukan secara sendiri-sendiri. Sebagai alternatif untuk meningkatkan posisi tawar pembudidaya, pembudidaya hendaknya bergabung pada satu wadah kelompok tani atau koperasi yang berfungsi sebagai lembaga pemasaran sehingga penetapan harga akan lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Wadah tersebut nantinya dapat bermitra dengan perantara pemasaran. Walaupun di beberapa tempat ditemukan adanya wadah tersebut, namun belum berfungsi sebagai lembaga pemasaran produk secara kolektif.

2.4 Habitat dan penyebaran

Ikan gurami hidup pada air yang tenang dan dalam lingkungan teduh tidak lembab, curah hujannya cukup tinggi dan banyak tumbuhan air. Suhu air yang ideal 24º-28º C dengan derajat keasaman berkisar 7-8 dan kandungan oksigen 3-5 mg/l ( Puspowardoyo dan Djarijah, 2000 ). Ikan gurami tesebar dari Perairan Sunda, Malaysia, Ceylon, Philipina dan Australia (Huet, 1994).

2.5 Kebiasaan Makan

Gurami merupakan ikan pemakan hewan dan tumbuhan. Sifat tersebut memungkinkan gurami untuk tumbuh lebih cepat dibandigkan dengan ikan yang hanya memakan hewan atau tumbuhan saja. Dihabitat aslinya, gurami memakan segala macam hewan dan rumbuhan yang hidup yang hidup disekitarnya, mulai dari fitoplankton sampai serangga dan daun-daunan lunak. Fitoplankton seperti Rotifera, Infusoria dan Chlorella, umumnya di konsumsi gurami pada stadia larva. Zooplankton seperti Dhapnia, dan Cladocera serta serangga seperti rayap biasanya di konsumsi gurami pada stadium benih. Pakan gurami yang berupa daun-daunan secara ilmia terdiri atas tumbuhan air, seperti Azolla (mata lele), Lemna hydryla (ekor kucing), Ceratpohylum dan Mriophylum (ekor tupai), pistis (apu-apu), kangkung dan genjer (jangkaru,2002).

Selai faktor induk dan air, salah satu faktor keberhasilan dalam usaha pembenihan gurami adalah pakan. Pakan untuk benig gurami dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pakan alami dan pakan buatan.

BAB 3

Teknik Pemeliharaan, Pemijahan Induk Dan Penetasan Telur

2.2 Pemilihan Induk Siap Pijah

Perbedaan induk jantan dan induk betina :

a.

Betina

1. Dahi meninjol.

2. Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.

3. Dagu putih kecoklatan.

4. Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.

5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

b.

Jantan

1. Dahi menonjol.

2. Dasar sirip dada terang keputihan.

3. Dagu kuning.

4. Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.

5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.






Untuk menghasilkan benih gurami yang baik yang baik dalam arti banyak anakan yang hidup dan mutu benih yang terjamin (sehat, normal, pertumbuhan badan seragam) salah satunya syarat utamanya adalah kualitas atau mutu induk yang baik adalah :

Bentuk badan induk yang baik dalah tidak cacat (normal) susunan sisisk teratur, bersih atau cerah, badan relative panjang dengan bagian perut mengembung (betina), sedangkan pada jantan bagian perut dekat anus lancip dan gerakannya lincah. Pada induk jantan harus bercula, warnanya kehitam-hitaman, kuat dan tangkas.

Ciri induk jantan yang siap di pijakan adalah adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawa yang tebal, dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubunya memerah berbintik hitam terang dengan perut berbentuk sudut tumpul. Sedangkan induk betina yang siap di pijakan ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawa tipis, dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubuhnya lebih terang dari pada induk jantan dan bentuk perutnya besar bulat.

Ciri lainya adalah kelamin induk betina akan mengeluarkan telur berwarna putih jika perut ditekan kearah kelamin. Sedangkan induk jantan yang suda matang akan mengeluarkan sperma berwarna putih. Cara muda menentukan kematangan gonad induk jantan adalah dengan melihat tingka lakunya yang selalu beriringan dengan induk betina dan mulai membuat sarang dari rumput kering. Sementara itu, kematang gonad betina dapat dilihat dari perut yang membesar dan tersa lunak saat diraba.

2.3 Pemeliharaan Induk

Induk yang digunakan dalam pembenihan harus suda berusia diatas lima tahun atau sedang dalam masa produktif, selain itu, induk harus berasal dari strain yang bagus, sehat, kuat, dan tidak cacat fisik. Bobot gurami yang pantas di jadikan induk adalah 1,5-2 kg/ekor induk gurami yang telah di pilih kemudian di pelihara dalam kolam pemeliharaan, pemeliharaanya dapat dicampur dengan ikan jenis lain seperti ikan mas atau ikan tambak yang mirip gurame. Kedalaman kolam induk minimum 7,5 cm. Kolam yang terlalu dangkal tidak baik di gunakan, karea gurame suka sekali bergerak naik turun. Kolam harus juga dilengkapi dengan pintu masuk dan pintu keluarnya air, sehingga kita dapa melakukan sirkulasi. Lahan yang digunakan baiknya tidak berlumpur, tetapi memiliki air yang jernih. Kepadatan kolam hendaknyadisesuaikan dengan tingkat luas kolam.

Penebaran induk harus dilakukan hati-hati. Pasalnya, penabaran yang dilakukan secara sembarangan akan mengakibatkan induk stres, seingga dapat menggangu proses pemijahan nantinya. Sebaiknya penebaran induk dilakukan pada pagi hari disaat udara tidak terlampau panas, lebih baik lagi apabila kolam di beri naungan yang berfungsi untuk menahan sinar matahari yang berlebian, sehingga ikan didalamnya dapat berenang dengan tenang.

Selama pemeliharaan induk pemberian pakan harus dilakukan secara intensif. Pakan yang diberikan dapat berupa pelet dengan kadar protein berkisar 40% dengan dosis 1,5-2% dari bobot badan ikan per- hari. Selain berkadar protein tinggi, pakan juga harus mengandung vitamin dan mineral yang cukup. Selain itu, pakan alami berupa daun talas dapat dijadikan makanan tambahan yang diberikan sekitar 0,5% dari bobot badan ikan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap, karena ikan gurame termasuk ikan yang lamban merespon makanan, terutama pakan buatan. Pemberian pakan yang bermutu dimaksudkan untuk memacu kematangan gonad induk gurami.

3.3 Pemijahan

induk yang suda matang gonad siap untuk di tebarkan kekolam pemijaha. Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukuran minimumnya 20 m2 dan maksimum 1.000 m2, dengan kedalaman 1-1,5 m. Ukuran luas kolam tergantung pada padat tebar induk yang akan dipijahkan. Kolam pemijahan sebaiknya dibangun dekat dengan kolam induk, sehingga memudahkan proses pemindahan induk.

Kualitas air kolam pemijahan yang baik bersuhu 25-30 o C, nilay PH 6,5-80, laju pergantian air 10-15 % per hari, dengan ketinggian air kolam 40-60 cm. Kolam pemijahan tidak boleh banyak mengandung banyak lumpur. Dan air di kolam pemijahan tidak boleh terlalu keru, sehingga kita dapat melihat aktifitas gurame di kolam pemijahan, terutama aktifitas menjaga sarang telur yang diletakan sekitar 25 cm dari permukaan air. Kolam pemijahan harus juga dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air, sehingga ikan selalu mendapatkan kondisi air yang segar. Secara fisik, air yang baik juga menjamin ketersediaan oksigen bagi gurame dan telur-telur yang suda dibuahi saat pemijahan.

Selain itu, di dalam kolam juga harus dipasang bahan sarang dan sosong. Sosong sebagai tempat sarang telur di letakan 25-30 cm dari permukaan air kolam, sementara bahan sarang dapat diletakan dipermukaan air atau di kedalaman 5-10 cm dari permukaan air. Letak dan bentuk sosog dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. sarang (sosog) tempat gurame meletakan telur :

Bahan sarang yang biasa disiapkan unuk gurami bisa berupa sabut kelapa, rajutan karung, atau ijuk yang di letakkan di atas para-para atau anyaman tali, para-para tersebut dapat di buat menyembul di permukaan air atau di benamkan sedalam 5-10 cm. (Terlihat seperti pada gambar). Penempatan bahan sarang di maksutkan untuk memudahka bagi induk jantan dalam menyusun sarang, pembuatan sarang oleh gurame berlangsung satu hari sampai dua minggu. Tempat sarang dibuat dari anyaman bambu atau keranjang. Letaknya sejajar dengan permukaan air.

Pemindahan induk dari kolam pemeliharaan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan beskom atau ember besar yang berisi air, agar ikan tidak stres pada waktu di tebar di kolm pemijahan. Selain menggunnakan beskom, induk juga dapat diangkat dengan menggunakan karung goni atau kain halus yang basah, kemudian dilepas dengan berlahan di kolam pemijahan. Pemindahan dengan cara ini akan mengurangi resiko stress pada ikan. Sebaiknya, induk diletakan dekat pintu pemasukan air, karena pada bagiaan tersebut oksigen yang terlarut di dalamnya masih tinggi. Padat tebar induk adalan 1 ekor ikan untuk 5 m2 kolam, dengan perbandingan induk jantan : betina adalah1:3. Penebaran induk dikolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan (sesuai perbandingan) atau secara komunal ( satu kolam di isi beberapa pasangan ).

Peroses pemijahan biasanya akan berlangsung selama satu minggu setelah induk gurame berada di dalam kolam pemijahan. Selanjutnya, induk jantan akan merapikan sarang pada sosog, kemudian induk betina akan mendekat dan meletakan telur-telurnya pada sosog. Setelah itu, induk jantan akan membuainya dengan cara menyemprotkan sepermanya kadalam telur-telur tersebut.

Induk jantan akan membuat kembali sarang lain untuk betina lain. Pemijahan pertama biasanya biasanya akan berlangsung setelah sarang selesai di buat. Pemijahan dilakukan pada siang menjelang sore hari antara pukul 15.00-17.00. Pengeluaran telur oleh betina terjadi didepan sarang, sementara pembuaan oleh induk jantan di dalam sarang. Pemindahan telur kedalam sarang dilakukan oleh induk jantan dengan cara mengisap telur kedalam mulutnya, kemudian menyemprotkannya kedalam sarang untuk di buahi.

Keberhasilan pembuaahan dapat di amati dengan melihat permukaan air kolam. Jika tercium bau amis yang di ikuti dengan munculnya banyak miyak di permukaan air, berarti telah terjadi peruses pemijahan. Pemijahan akan terus berlangsung hingga betina selesai bertelur. Umumnya, proses pemijahan berlangsung selama tiga hari.

Jumlah telur yang dihasilkan oleh satu induk betina berkisar 5000-7000 butir, tergantung pada jenis gurami yang dipijahkan, keberhasilan pemijahan sangat di pengaruhi oleh kondisi perairan dan kualitas pakan yang di berikan. Suhu air yang optimum untuk menunjang keberhasilan pemijahan ialah 28 0C, dengan Ph air 6-7. Sebelum pemijahan dilakukan,selam dua minggu di kolam pemeliharaan, induk di beri makanan yang bermutu baik.

Pemeriksaan sarang yang suda berisi telur dapat dilakukan dengan cara merabah dan menggoyangkanya sarang secara berlahan atau dengan cara menusuk sarang menggunakan lidi atau kawat. Sarang yang suda berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak atau telur dari sarang ke permukaan air.

Pengambilan sarang dilakukan secara hati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang. Sebaliknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa baskom atau ember besar yang diisi air kolam pemijahan. Sarang diangkat berlahan-lahan dan di celupkan kedalam air yang suda di sediakan di dalam ember atau baskom. Tingkat kegagalan penetasnya sangat di pengaruhi oleh carah pengangkutaan sarang.

2.5 Penetasan Telur

Sarang yang telah diangkat dari kolam pemijahan dimasukan kedalam ember yang berisi air dan campuran Metheline Blue, dengan perbandingan 5cc obat untuk 5 liter air. Menurut pengalaman petan, kebanyakan telur yang busuk disebabkan oleh sarang yang berjamur atau kesalahan dalam pengangkutan yang mengakibatkan telur pecah atau rusak. Telur yang hidup biasanya berwarna kuning cerah atau bening trasparan, sedangkan telur yang gagal menetas berwarna putih suram dan tidak trasparan. Telur-telur yang mati harus disingkirkan agar tidak menular pada telur yang lainya.

Selanjutnya sarang dalam ember tersebut dibawa kedalam tempat penetasan. telur akan menatas dalam kurun waktu 41 jam, larva yang baru menetas posisi badanya terbalik, yakni bagian perut berda diatas, sedangkan bagian punggungnya dibawah, gerakannya hanya mampu berputar-putar. Hal ini akan terjadi selama empat sampai lima hari.Tahapan menetasnya telur gurami dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3: Tahapan penetasan telur gurame.

Keterangan:

1. Telur pada tahap 4 sel,20 menit setelah pembuahan

2. Tahap morula,90 menit

3. Tahap blastrula,5 jam 30 menit

4. Perkembangan awal embrio,6 jam 30 menit

5. Embrio pada tahap 8 myimere,8 jam 30 menit

6. Embrio dengan 15 myomere.10 jam 30 menit

7. Embrio dengan 23 myomere.12 jam

8. Embrio 24 myomere,saat sebelum menetas,14 jam 30 menit

Larva gurami menggunakan kuning telurnya sendiri untuk membentuk jaringan tubuh baruh seperti tulang, sisik, sirip, dan ekor. Kadar protein didalam pakan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ikan. Tempat penetasan sebaiknya berada di lingkungan yang tenang, karena telur tidak akan menetas jika sering kaget. Agar resiko kegagalan dalam penetasan bisa dikurangi, telur berwarna kuning keruh sebaiknya dibuang karena tidak akan menetas. Hanya telur yang berwarna kuning cerah yang akan menetas.

2.5.1 Penetasan di kolam pemijahan

Dahulu banyak petani yang menetaskan gurami di kolam penetasan yang sekaligus juga merupakan kolam pemijahan. Telur-telur yang telah di buahi induk jantan akan di jaga oleh induk betina sampai menetas. Gerakan induk betina di sekitar sarang akan menyebabkan bertambahnya oksigen terlarut didalam air, dan akan menghidupkan telur-telur yang dijaganya. Telur akan menetas menjadi larfa pada hari ke 11-12

2.5.2 Penetasan da dalam Paso atau Baskom

Paso adalah wadah yang terbuat dari tanah liat dengan volume air 10-20 liter. Paso sebaiknya di letakan dekat rumah atau tempat terbuka yang mendapat cukup sinar matahari. Paso dapat diganti dengan baskom atau ember. Namun, umumnya patani lebih suka menetaskan telur ikan didalam paso, karena dianggap tingkatkeberhasillanya lebih tinggi.

Telur yang berasal dari satu sarang di bagi dalam tiga paso. Setiap harinya dilakukan penggantian air sebanyak dua kali, yaitu pada pagi dan soreh hari. Jumla air yang diganti sebanyk setengah bagian air. Selain itu, telur-telur yang berjamur harus di buang. Biasanya pada hari ke 8-10 telur-telur yang baik sudah menetas semuanya.

2.5.3 Penetasan di dalam Aquarium

Penetsan didalam aquarium merupakan langka paling muktahir dalam menetaskan telur gurame. Cara ini diangngap palingh efektif karena pengontrolanya lebih ketat dan sarana pendukungnya amat memadai, sehingga tingkat keberhasilannya amat tinggi. Berikut ini persiapan yang harus dilakukan dalam penetasan telur gurame di dalam aquarium.

a. Persiapan wadah

- Akurium

Akurium yang di gunakan berukuran panjang 100 cm, dan tinggi 40 cm dengan ketebalan 5 mm. Jumlah aquarium yang di butuhkan tergantung dari larva yang akan di hasilkan. Idealnya, satu buah akuarium di isi tulur gurami sebanyak 2.500. Setelah menetas, benih tersebut dipisa-pisahkan. Benih yang berukuran sebesar gabah kepadatannya di kurangi menjadi sekitar 1.500 elor/aquarium, benih yang berukuran sebesar biji kuaci kepadatanya sekitar 1.000 ekor/akuarium, benih berukuran daun kelor sekitar 700 ekor/akuarium, benih yang berukuran silet 500 ekor/akuarium, dan benih yang berukuran korek sekitar 300 ekor/akuriumnya.

- Ember atau Baskom

Ember atau baskom di gunakan untuk sarana memindahkan telur dari kolam pemijahan ke akuarium penetasan atau untuk memindahkan larva dari akuarium penetasan ke akuarium atau kolam pendederan. Selain itu, ember atau baskom dapat di gunakan sebagai wadah pengurai dan penyucian telur yang baru diambil dari sarang, serta untuk menyortir benih.

- Bak Penampungan Air

Bak penempungan di gunakan untuk menampung dan mengendapkan air sebelum di tuangkan ke akuarium. Tujuannya agar air memiliki parameter air yang sesuai untuk budidaya gurame. Parameter tersebut berupa derajat keasaman (pH), tingkat kesadahan, dan oksigen terlarut.

b. Peralatan Pendukung

- Aerator

Aerator merupakan alat yang meniupkan udara kedalam Akuarium untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam air.Setiap akuarium membutuhkan suatu lubang aerator.Untuk menghemat biaya,sebaiknya menggunakan blower yang banyak memiliki lubang udara.

Batu Aerasi

Batu aerasi adalah alat yang berfungsi melarutkan udara yang di tiupkan selang kedalam akuarium. Alat ini di letakan di ujung selang dan di masukan kedalam akuarium. Penggunaan batu aerato bertujuan untuk menekan tingkat mortalitas larva yang di hasilkan, Selain itu, batu aerator juga berfungsi menambah arus air. Sehingga larva tidak terganggu hidupnya.

- Water Heather ( Pemanas Air )

Pemanas air digunakan saat suhu lingkungan berubah menjadi dingin. Water heather berfungsi sebagai penghangat air. Kondisi lingkungan yang dingin biasanya akan mengganggu kesehatan larva. Larva dapat terserang jammur atau velvet. Pada sehu renda, bakteri penyebap penyakit akan berkembang. Dengan demikian, nafsu makan ikan akan turun drastis pada suhu air yang hangat, selain akan membuat nafsu makan ikan meningkat, juga menbantu proses metabolisme.

c. Obat-obatan

Obat-obatan ini di siapkan untuk mencegah terjadinya jamur pada telur.Bahan aktif Methelin Blue berfungsi sebagai zat anti jamur,anti bakteri,dan jasad renik lainya.Bahan aktif ini juga dapat di gunakan untuk menghilangkan hama pada akuarium dan peralatan lainya.Sementara itu,antibiotik berguna untuk pengobatan luar pada tubu ikan yang sakit.

d. Ruang Penetasan Telur

Ruang penetasan telur sangat di butuhkan untuk melatakan akuarium penetasan.Ruang penetasan akuarium sebaiknya berukuran cukub besar agar dapat di isi beberapa akuarium.Bahan dinding ruangan diusahakan yang menyerap panas,antara lain bisa dibuat dari asbes atau fiberglas yang berwarna gelab agar cahaya matahari yang masuk tidak berlebihan sehingga telur-telur yang akan ditetaskan tidak terganggu.

BAB 4

Pemeliharaan Larva

Setalah telur menetas, larva dapat dipelihara di corong penetasan sampai umur enam hari. Jika penetasan dilakukan di akurium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan selam pemeliharaan, penggantian air akuarim perlu dilakukan untuk membersikan air dari minyak yang di hasilkan sewaktu penetasan. Untuk larva yang suda di beri makan, pergantian air dilakukan ketika suda terdapat banyak kotoran dan sisa pakan dari kotoran ikan. Kualitas air sebaiknya di pertahankan pada suhu 29-30 oC dan pH 6,5-8,0. Benih gurami yang baru menetas dan masih memiliki dapat di lihay pada gambar 4.

t

Gambar 4 : Larva gurame yang masih memiliki kuning telur.

Ruang pemeliharaan larva sebenarnya sama dengan ruang penetasan, tetapi dapat juga di buatkan dengan tersendiri yang khusus memelihara larva diharapkan tidak terlalu rapat, sehingga mampu menampung lebih banyak larva yang akan di besarka.

Atap ruangan pemeliharaan larva sebaiknya mengunakan bahan yang berwarna cerah, tetapi jangan terlalu tembus cahaya matahari karena dapat menggangu kehidupan larva. Dinding ruangan diplaster agar mudah di bersikan, sehingga lantai tidak lembab.

Fase larva merupakan masa kritis dalam daur hidup ikan sehingga tingkat kematian atau mortalitas pada fase ini sangat tinggi. Banyak faktor yang menyebapkan tingkat mortalitas pada fase larva menjadi tinggi mortalitas pada fase larva menjadi tinggi. Faktor penyebap tersebut dapat digolongkan dalam factor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut antara lain meliputi penyakit, hama, mutu air, cuaca dan pakan. Sementara faktor internal berasal dari proses perkembangan biologi larva sendiri .Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan beberapa tindakan dalam perawatan larva.

4.1 Pemberian Pakan Alami dan Buatan

Bagi larva, ketersedian pakan alami sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Kekurangan pakan alami dapat di tanggulangi dengan pemberian pupuk dan pakan tambahan atau buatan dalam bentuk pupuk atau tepung halus. Pakan untuk larva ini harus lebih kecil dibanding dengan bukaan mulut larva. Lebar bukaan mulut larva gurame sekitar 0,21 mm.

Untuk memperoleh bentuk dan ukuran pakan sesuai dengan lebar bukaan pakan sesuai dengan lebar bukaan mulut larva, pakan hidup diberikan sebelum larva mencapai dewasa, sedangkan untuk pakan mati atau buatan perlu di haluskan terlebih dahulu. Pakan alami merupakan menu utama selam tahap awal benih ikan, termaksut gurame. Jenis pakan alami yang umum dipakai dan muda di peroleh antara lain Moina, Daphnia, Chironomus, dan Tubifex.

Pakan alami dapat ditambahkan sebagai makanan ekstra atau menggantikan sebagai pakan buatan. Kalau pakan alami berfungsi sebagai pengganti ransum pakan buatan maka perbandingan yang disarankan adalah adalah 50-75% pakan alami dan 25-50% pakan buatan. Perbandingan tersebut terutama berlaku bagi benih yang bobotnya belum mencapai 0,5 g. Pemberian pakan alami dilakukan secarah bertahap, yaitu dimulai dengan saat kuning telur akan habis. Pemberian pakan alami yang efektif pada hari ke sepuluh setelah telur menetas. Jika pakan alami diberikan sebagai menu pokok maka besar ransumnya 20% (bobot kering) dari bobot ikan per hari dan diberika 2-3 kali.

4.2 Vaksinasi

Vaksinasi merupaakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat mertalitas larva. Vaksinasi dapat dilakukan padah benih guarame yang berumur lebih dari dua minggu. Jenis vaksin yang dapat diguakan misalnya septiceamia heamorrhagica yang menberikan kekebalan aktif pada penyakit bercak merah yang disebapkan bakteri aermonas hydrophila.

Caranya benih gurame direndam dalam lerutan faksin selam 30 menit dengan dosis 1 ml vaksin dicampur dalam 10 l air untuk 150 ekor benih. Vaksinasi ini telah mampu memberikan kekebalan selam empat bulan dengan masa inkubasi 15 hari.

4.3 Pengunaan Sumber Air yang Bersih

Faktor hama yang menyerang larva diantisipasi dan ditangulangi dengan pengguaan sumber air, seperti mata air, sumur bor, atau air hujan, yang relative bebas hama. Gangguan ini juga dapat dikurangi dengan mengunakan air media kultur yang telah disaring atau difilter.

4.4 Aerasi

Larva dan anak ikan sangat peka terhadap kekurangan oksigen. Kondisi tersebut disebapkan oleh alat pernafasan hal tersebut di karenakan alat pernafasan yang belum terbentuk dengan sempurna dan juga dipengaruhi juga oleh gerakan yang masih lamban. Untuk meningkatkan kandungan oksigen yang terlarut dalam air dilakukan peroses aerasi, yaitu dengan cara memasukan udara kedal air atau melemparkan butiran air ke udara. Untuk memasukan udara kedalam air dapat menggunakan aerator, blower, atau injector. Sementara itu, untuk melemparkan butir air ke udara dilakukan dengan mengunakan pengebut, seprotan, atau menjatukan air di permukaan batu. Penggunaan kincir berfungsi keduanya. Pada waktu baling-baling masuk kedalam air akan membawa udara dan pada waktu meninggalkan air akan melemparkan air ke udarah. Usaha penambahan oksigen terlarut dalam air dilakukanhanya pada saat kritis, yaitu menjelang matahari terbit atau pada waktu cuaca mendung. Namun, perlu diingat bahwa kelebihan oksigenn dalam air akan berdampak sama dengan kekuranga oksigen terhadap ikan terhadap ikan selain itu juga tidak ekonomis.

2.6.5 Pemberian Naungan

Faktor cuaca seperti suhu, angin, dan curah hujan menentukan keberhasilan hidup larva dan benih. Suhu tubuh ikan selalu menyamai suhu air di sekitarnya, yaitu sekitar 5 oC lebih tingi. Kemampuan tubuh ikan mengatur suhunya mempunyai batas maksimum dan minimum. Dalam waktu yang singkat, perubahan suhu lingkungan yang dapat diikuti oleh suhu tubuh ikan maksimum 5 oC. Usaha mengantisipasi perbedaan suhu yang terlalu besar di daera tropika adalah dengan mempergukan peneduh atu atap, sedangkan di daerah subtropika atau dingin dipakai penutup.

Perubahan suhu dengan perbedaan besar serta terjadi dalam waktu singkat menyebapkan tubuh ikan tidak dapat beradaptasi sehingga berakibat fatal.

Faktor angin juga berpengaruh terhadap kehidupan larva. Angin yang bertiup di permukaan air akan menimbulkan riaka atau gelombang yang akan menengelamkan larva gurami ke lapisan air lebih dalam. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi larva karena lapisan air yang lebih dalam mengandung lebih sedikit oksigen.

Cura hujan yang jatu langsung ke permukaan air juga dapat berakibat fatal bagi larva. Kematian larva karena factor ini di sebapkan oleh terhalangnya larava kepermukaan air karena titik-titik air, penurunan suhu air yang drastis, atau factor keduanya yang bekerja bersamaan. Oleh karena itu. Lokasi atau tempat pemeliharaan larva harus terlindungi.

2.7 Pemeliharaan Benih

Benih adalah larva gurami yang berumur 2,5 bulan dari hasil pemeliharaan dan sudah mencapai bobot 0,5 g/ekor. Selanjutnya benih tersebut dipelihara di dalam happa yang dipasang didalam bak atau kolam. Pemeliharaan benih di dalam happa dilakukan secara intensif. Happa biasanya dipasang dengan cara diikatkan pada tonggak-tongga bam boo yang dipasang pada kolam. Namun, disarankan memasang happa didalam bak khusus dari tembok agar pengawasan dan kualitas airnya dapat dikontrol. Sampai saat ini belum ada standar baku dalam penentuan ukuran benih gurame, bentuk dan ukuran dari benih gurami masih belum ditentukan seperti terlihat pada gambar 5.

Gambar 5: Benih gurame.

2.8 Pemeliharaan Benih di Dalam Happa

Teknologi pemeliharaan benih gurame secara intensif di dalam happa merupakan salah satu upaya pemeliharaan untuk memacu pertumbuhan dan menekan mortalitas (tingkat kematian) gurami. Halini dapat diperoleh dengan cara mengatur pola pemberian pakan sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengatur pemberian pakan dilakukan dengan cara memberikan pakan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulut benih dan periode pemberian disesuaikan dengan kebutuhan ikan. Untuk ikan ukuran benih biasanya pakan diberikan secara ad-libi-tum (sampai ikan benar-benar kenyang). Pemeliharaan intensif di dalam happa ini dilakukan untuk menekan tingkat kematian benih gurame yang cukup tinggi (50-75%) pada sistem pemeliharaan konfensional (Insan,2000). tingginya tingkat kematian pada pemeliharan konvensional antara lain disebabkan oleh pemberian pakan yang kurang memadai dan kondisi tempat pemeliharaan yang sulit dikontrol.

BAB 2.

Biologi Ikan Gurami

2.1 Klasifikasi Ikan Gurami

Sebagai ikan budidaya (kultur) ternyata gurami tidak hadir sendirian. Ia hadir bersama kerabatnya yang berasal dari keluarga pemilik labirynth, yaitu organ orisinil pendamping insang insang yang memungkinkan mereka hidup dan berkembang pada lingkungan yang miskin oksigen, pada air tergenang. Ternyata, banyak pula diantaranya yang hadir di akuarium sebagai ikan hias. Mereka dipajang karena mempunyai potensi untuk itu, indah warnanya dan lucu bentuknya.

Menyimak asal usul gurami. Ternyata mereka mempunyai rihwayat yang lumayan panjang. Menurut sistematika ikan yang di kemukakan Bleeker dan sudah diperbaiki oleh Sunier, Waber dan de Beaufort, maka daftarnya sebagai berikut :

Filum : Chordata ( hewan bertulang belakang )

Kelas : Pisces ( bangsa ikan yang mempunyai insang untuk bernafas )

Ordo : Labirintchi (mempunyai satu sirip punggung dan mampu mengamil dari udara di luar air, mempunyai alat labirinth )

Sub ordo : Anabantoidae ( sirip puggung dan sirip perut dengan satu atau lebih jari-jari keras : sirip perut dengan lima atau kurang dari lima jari-jari keras, atau hanya satu jari-jari : rongga diatas rongga insang beralat labirint

Famili : Anabantidae ( badan gepeng, agak panjang, hidung pendek, mulut kecil, lubang insang sempit karena bagian gabungan daun insang lebar, jari-jari keras, sirip punggung dan sirip dubur berbedaa jumlanya : sirip dubur panjang )

Genus : Osphronemus ( permulaan sirip punggung belakang dan sirip dada : sirip punggung lebih pendek dari pada sirip dubur : sirip perut dengan satu jari jari keras dan lima jari-jari lemah : sisik etrsusun rata : garis rusuk lengkap dengan tidak terputus-putus )

Species : Osphonemus gouramy lacepede ( sisik garis rusuk 30-33 ; dorsal XII-XIII. 11-13 ; Anal IX-XI 19-21 ; Pectorial 2.13-14 ; Ventral 1,5

Nama Ingris : Gourami

Nama Indonesia : Gurami, Gurame, Gurameh, Kalui, Kali

2.2 Morfologi Ikan Gurami

Ikan gurami mempunyai bentuk tubuh agak panjang, lebar atau pipih ke samping (compressed), badan tertutup oleh sisik yang besar sehingga terlihat kasar dan kuat. Pada bagian kepala ikan gurame muda berbentuk lancip dan akan menjadi dempak setelah dewasa dan terdapat tonjolan seperti cula pada ikan jantan (Respati dan Santoso, 1992).

Warna ikan gurame pada umumnya biru kehitam-hitaman dan bagian perut berwarna putih, warna tersebut akan berubah menjelang dewasa. Pada bagian punggung berwarna kecoklat-coklatan atau kekuningan, memiliki sepasang sirip perut yang telah mengalami perubahan menjadi sepasang benang yang panjang dan berfungsi sebagai alat peraba. Ikan ini memiliki labirin sehingga tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang oksigen (Asmawi, 1984).

Bagian ujung sirip punggung dan ujung sirip dubur dapat mencapai pangkal anus dan sirip ekor berbentuk busur (rounded). Pada ikan gurame betina terdapat tanda hitam (black spot) di depan pangkal ekor. Sirip yang keras menempel pada bagian punggung, sedangkan letak garis rusuknya menyilang di bagian bawah sirip punggung (Respati dan Santoso, 1992). Selain sirip punggung dan sirip dubur ternyata sirip ekor dan sirip perut juga mempunyai jari-jari lemah yang mengeras. Rumus jari- jari ikan gurame adalah D.XII- XIII. 11-13, P.2. 13-14, V.1.5.A.IX-XI dan C.I.30-33. Angka Romawi menunjukan jumlah jari –jari sirip keras, sedangkan angka arab menunjukan jumlah jari-jari lemah. Angka arab yang terletak pada sebelah depan mengisyaratkan jumlah jari-jari lemah mengeras. Jari-jari keras tidak berbuku-buku, keras dan tidak dapat dibengkokan, sedangkan jari-jari lemah bentuknya seperti tulang rawan, beruas-ruas dan elastis. Morfologi ikan gurami terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Bentuk Dan bagian tubuh ukan gurame (Osphronemus gouramy)

2.3 Distribusi Ikan Guram

Dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya, ikan gurami dapat dianggap memiliki keunggulan baik dari segi harga maupun permintaan konsumen sehingga dari segi persaingan dirasakan tidak ada masalah. Sementara itu permintaan yang cukup besar belum dapat dipenuhi dari produksi ikan gurami yang ada. Hal ini disebabkan oleh belum intensifnya teknologi budidaya ikan gurami. Dengan demikian, walaupun hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, peluang pasar masih terbuka.

2.3.1 Jalur Pemasaran

Terdapat berbagai pihak yang terlibat dalam pemasaran ikan gurami mulai dari pembudidaya gurami (baik pembenih maupun pembesar), pengepul, banda, pedagang besar, pengecer dan konsumen. Pengepul adalah pedagang yang mengumpulkan atau membeli ikan gurami dari petani sedang bandar adalah pedagang pengumpul dengan modal dan skala usaha lebih besar dari pada pengepul. Selain dapat membeli gurami langsung dari petani, bandar juga dapat mengumpulkan gurami dari pengepul. Pedagang besar juga merupakan pedagang pengumpul, namun bergerak di sektor bisnis yang lebih luas, berbadan hukum dan telah terorganisir seperti pasar swalayan, supermarket dan supermarket grosir. Pengecer adalah pedagang lapak, pemilik kios, tukang sayur, hotel, restoran, katering, supermarket dan supermarket grosir. Konsumen adalah konsumen akhir yang membeli gurami untuk dikonsumsi dan tidak dijual lagi (Tim Lentera, Cermat dan Tepat Memasarkan Gurami, 2003).

Pemasaran benih ikan dan ikan gurami konsumsi dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pada jalur pemasaran benih, pemasaran secara langsung dilakukan oleh petani pembenih kepada petani pembesar ikan, sedangkan pada jalur pemasaran ikan gurami konsumsi dilakukan oleh petani pembesar kepada konsumen akhir (misalnya konsumen rumah tangga di pasar). Pemasaran tidak langsung dilakukan melalui lembaga perantara (pengepul, bandar, pedagang besar dan pengecer). Pola distribusi secara tidak langsung bervariasi dapat menggunakan satu sampai empat lembaga perantara. Sehingga, karena pada setiap cabang pemasaran pelaku mengambil keuntungan, maka dengan semakin panjangnya jalur distribusi pemasaran mengakibatkan harga ikan gurami yang diterima konsumen akhir menjadi semakin tinggi.

2.3.2 Pemasaran benih

Benih yang dihasilkan oleh pendeder dapat langsung di jual kepada pembesar ikan yang menjadi langganannya secara langsung atau melalui pedagang parantara. Penjualan benih biasanya disertai jaminan terhadap resiko kematian selama beberapa waktu tertentu (biasanya 1 sampai dengan 2 minggu), tergantung kesepakatan antara pembeli dengan penjual. Transaksi penjualan benih dapat dilakukan di pasar ikan atau di kolam ikan. Biasanya permintaan benih meningkat setelah hari raya yaitu untuk memenuhi kebutuhan benih yang akan dibesarkan setelah ikan gurami ukuran konsumsi habis di panen untuk hari raya.

Adapun jalur pemasaran benih ikan gurami oleh pembudidaya di Banyumas Utara adalah sebagai berikut : pendeder menjual berupa telur kepada pembudidaya di Jawa Timur sedangkan benih ikan di jual kepada produsen ikan gurami konsumsi di Banyumas Selatan yang merupakan wilayah usaha pembesaran. Disana ikan gurami mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan di Banyumas Utara yang merupakan wilayah usaha pendederan (lihat pembagian wilayah pada Box 1). Setelah mencapai ukuran konsumsi, ikan gurami konsumsi (GK) dijual kembali kepada pendeder yang sekaligus berusaha sebagai penjual ikan. Biasanya ikan gurami konsumsi akan dikarantina dan diberokan dulu di kolam pemberokan sebelum di jual kepada pengecer di Jawa Barat. Pola jual beli ikan seperti ini tidak berdasarkan pada suatu perjanjian tertulis, namun dapat menjamin pasokan pedagang karena pedagang ikan biasanya telah mempunyai pelanggap tetap.

2.3.3 Pemasaran gurami konsumsi

Ikan gurami konsumsi di jual dari pembudidaya kepada pedagang pengumpul untuk selanjutnya di jual kepada pengecer yang diteruskan kepada konsumen akhir. Namun demikian ada kalanya pembudidaya ikan langsung menjual kepada konsumen akhir. Biasanya penjualan ikan gurami konsumsi meningkat pada saat perayaan hari-hari besar.

Waktu penjualan ikan gurami ditentukan oleh kebutuhan pembudidaya terhadap uang dan atau permintaan pasar. Apabila petani membutuhkan uang maka dia akan menjual ikannya walaupun belum mencapai ukuran konsumsi. Demikian juga halnya apabila ada permintaan pasar untuk ikan ukuran tertentu akan dijual sepanjang tercapai kesepakatan harga. Hal ini sangat dimungkinkan terutama pada usaha pendederan karena ikan gurami dapat dijual pada berbagai ukuran. Sehingga pembudidaya tidak selalu memelihara benih ikan dengan ukuran yang sama setiap periode pemeliharaan tergantung pada kebutuhan keuangannya dan permintaan pasar.

2.3.4 Kendala Pemasaran

Penetapan waktu menjual yang ditentukan oleh kebutuhan keuangan petani dapat mengakibatkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pembudidaya karena kebutuhan yang mendesak akan memperlemah posisi tawar mereka sehingga dapat mengakibatkan penjualan ikan dengan tingkat harga yang lebih rendah. Apalagi apabila pemasaran ikan dilakukan secara sendiri-sendiri. Sebagai alternatif untuk meningkatkan posisi tawar pembudidaya, pembudidaya hendaknya bergabung pada satu wadah kelompok tani atau koperasi yang berfungsi sebagai lembaga pemasaran sehingga penetapan harga akan lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Wadah tersebut nantinya dapat bermitra dengan perantara pemasaran. Walaupun di beberapa tempat ditemukan adanya wadah tersebut, namun belum berfungsi sebagai lembaga pemasaran produk secara kolektif.

2.4 Habitat dan penyebaran

Ikan gurami hidup pada air yang tenang dan dalam lingkungan teduh tidak lembab, curah hujannya cukup tinggi dan banyak tumbuhan air. Suhu air yang ideal 24º-28º C dengan derajat keasaman berkisar 7-8 dan kandungan oksigen 3-5 mg/l ( Puspowardoyo dan Djarijah, 2000 ). Ikan gurami tesebar dari Perairan Sunda, Malaysia, Ceylon, Philipina dan Australia (Huet, 1994).

2.5 Kebiasaan Makan

Gurami merupakan ikan pemakan hewan dan tumbuhan. Sifat tersebut memungkinkan gurami untuk tumbuh lebih cepat dibandigkan dengan ikan yang hanya memakan hewan atau tumbuhan saja. Dihabitat aslinya, gurami memakan segala macam hewan dan rumbuhan yang hidup yang hidup disekitarnya, mulai dari fitoplankton sampai serangga dan daun-daunan lunak. Fitoplankton seperti Rotifera, Infusoria dan Chlorella, umumnya di konsumsi gurami pada stadia larva. Zooplankton seperti Dhapnia, dan Cladocera serta serangga seperti rayap biasanya di konsumsi gurami pada stadium benih. Pakan gurami yang berupa daun-daunan secara ilmia terdiri atas tumbuhan air, seperti Azolla (mata lele), Lemna hydryla (ekor kucing), Ceratpohylum dan Mriophylum (ekor tupai), pistis (apu-apu), kangkung dan genjer (jangkaru,2002).

Selai faktor induk dan air, salah satu faktor keberhasilan dalam usaha pembenihan gurami adalah pakan. Pakan untuk benig gurami dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pakan alami dan pakan buatan.

BAB 3

Teknik Pemeliharaan, Pemijahan Induk Dan Penetasan Telur

2.2 Pemilihan Induk Siap Pijah

Perbedaan induk jantan dan induk betina :

a.

Betina

1. Dahi meninjol.

2. Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.

3. Dagu putih kecoklatan.

4. Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.

5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

b.

Jantan

1. Dahi menonjol.

2. Dasar sirip dada terang keputihan.

3. Dagu kuning.

4. Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.

5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.






Untuk menghasilkan benih gurami yang baik yang baik dalam arti banyak anakan yang hidup dan mutu benih yang terjamin (sehat, normal, pertumbuhan badan seragam) salah satunya syarat utamanya adalah kualitas atau mutu induk yang baik adalah :

Bentuk badan induk yang baik dalah tidak cacat (normal) susunan sisisk teratur, bersih atau cerah, badan relative panjang dengan bagian perut mengembung (betina), sedangkan pada jantan bagian perut dekat anus lancip dan gerakannya lincah. Pada induk jantan harus bercula, warnanya kehitam-hitaman, kuat dan tangkas.

Ciri induk jantan yang siap di pijakan adalah adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawa yang tebal, dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubunya memerah berbintik hitam terang dengan perut berbentuk sudut tumpul. Sedangkan induk betina yang siap di pijakan ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawa tipis, dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubuhnya lebih terang dari pada induk jantan dan bentuk perutnya besar bulat.

Ciri lainya adalah kelamin induk betina akan mengeluarkan telur berwarna putih jika perut ditekan kearah kelamin. Sedangkan induk jantan yang suda matang akan mengeluarkan sperma berwarna putih. Cara muda menentukan kematangan gonad induk jantan adalah dengan melihat tingka lakunya yang selalu beriringan dengan induk betina dan mulai membuat sarang dari rumput kering. Sementara itu, kematang gonad betina dapat dilihat dari perut yang membesar dan tersa lunak saat diraba.

2.3 Pemeliharaan Induk

Induk yang digunakan dalam pembenihan harus suda berusia diatas lima tahun atau sedang dalam masa produktif, selain itu, induk harus berasal dari strain yang bagus, sehat, kuat, dan tidak cacat fisik. Bobot gurami yang pantas di jadikan induk adalah 1,5-2 kg/ekor induk gurami yang telah di pilih kemudian di pelihara dalam kolam pemeliharaan, pemeliharaanya dapat dicampur dengan ikan jenis lain seperti ikan mas atau ikan tambak yang mirip gurame. Kedalaman kolam induk minimum 7,5 cm. Kolam yang terlalu dangkal tidak baik di gunakan, karea gurame suka sekali bergerak naik turun. Kolam harus juga dilengkapi dengan pintu masuk dan pintu keluarnya air, sehingga kita dapa melakukan sirkulasi. Lahan yang digunakan baiknya tidak berlumpur, tetapi memiliki air yang jernih. Kepadatan kolam hendaknyadisesuaikan dengan tingkat luas kolam.

Penebaran induk harus dilakukan hati-hati. Pasalnya, penabaran yang dilakukan secara sembarangan akan mengakibatkan induk stres, seingga dapat menggangu proses pemijahan nantinya. Sebaiknya penebaran induk dilakukan pada pagi hari disaat udara tidak terlampau panas, lebih baik lagi apabila kolam di beri naungan yang berfungsi untuk menahan sinar matahari yang berlebian, sehingga ikan didalamnya dapat berenang dengan tenang.

Selama pemeliharaan induk pemberian pakan harus dilakukan secara intensif. Pakan yang diberikan dapat berupa pelet dengan kadar protein berkisar 40% dengan dosis 1,5-2% dari bobot badan ikan per- hari. Selain berkadar protein tinggi, pakan juga harus mengandung vitamin dan mineral yang cukup. Selain itu, pakan alami berupa daun talas dapat dijadikan makanan tambahan yang diberikan sekitar 0,5% dari bobot badan ikan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap, karena ikan gurame termasuk ikan yang lamban merespon makanan, terutama pakan buatan. Pemberian pakan yang bermutu dimaksudkan untuk memacu kematangan gonad induk gurami.

3.3 Pemijahan

induk yang suda matang gonad siap untuk di tebarkan kekolam pemijaha. Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukuran minimumnya 20 m2 dan maksimum 1.000 m2, dengan kedalaman 1-1,5 m. Ukuran luas kolam tergantung pada padat tebar induk yang akan dipijahkan. Kolam pemijahan sebaiknya dibangun dekat dengan kolam induk, sehingga memudahkan proses pemindahan induk.

Kualitas air kolam pemijahan yang baik bersuhu 25-30 o C, nilay PH 6,5-80, laju pergantian air 10-15 % per hari, dengan ketinggian air kolam 40-60 cm. Kolam pemijahan tidak boleh banyak mengandung banyak lumpur. Dan air di kolam pemijahan tidak boleh terlalu keru, sehingga kita dapat melihat aktifitas gurame di kolam pemijahan, terutama aktifitas menjaga sarang telur yang diletakan sekitar 25 cm dari permukaan air. Kolam pemijahan harus juga dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air, sehingga ikan selalu mendapatkan kondisi air yang segar. Secara fisik, air yang baik juga menjamin ketersediaan oksigen bagi gurame dan telur-telur yang suda dibuahi saat pemijahan.

Selain itu, di dalam kolam juga harus dipasang bahan sarang dan sosong. Sosong sebagai tempat sarang telur di letakan 25-30 cm dari permukaan air kolam, sementara bahan sarang dapat diletakan dipermukaan air atau di kedalaman 5-10 cm dari permukaan air. Letak dan bentuk sosog dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. sarang (sosog) tempat gurame meletakan telur :

Bahan sarang yang biasa disiapkan unuk gurami bisa berupa sabut kelapa, rajutan karung, atau ijuk yang di letakkan di atas para-para atau anyaman tali, para-para tersebut dapat di buat menyembul di permukaan air atau di benamkan sedalam 5-10 cm. (Terlihat seperti pada gambar). Penempatan bahan sarang di maksutkan untuk memudahka bagi induk jantan dalam menyusun sarang, pembuatan sarang oleh gurame berlangsung satu hari sampai dua minggu. Tempat sarang dibuat dari anyaman bambu atau keranjang. Letaknya sejajar dengan permukaan air.

Pemindahan induk dari kolam pemeliharaan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan beskom atau ember besar yang berisi air, agar ikan tidak stres pada waktu di tebar di kolm pemijahan. Selain menggunnakan beskom, induk juga dapat diangkat dengan menggunakan karung goni atau kain halus yang basah, kemudian dilepas dengan berlahan di kolam pemijahan. Pemindahan dengan cara ini akan mengurangi resiko stress pada ikan. Sebaiknya, induk diletakan dekat pintu pemasukan air, karena pada bagiaan tersebut oksigen yang terlarut di dalamnya masih tinggi. Padat tebar induk adalan 1 ekor ikan untuk 5 m2 kolam, dengan perbandingan induk jantan : betina adalah1:3. Penebaran induk dikolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan (sesuai perbandingan) atau secara komunal ( satu kolam di isi beberapa pasangan ).

Peroses pemijahan biasanya akan berlangsung selama satu minggu setelah induk gurame berada di dalam kolam pemijahan. Selanjutnya, induk jantan akan merapikan sarang pada sosog, kemudian induk betina akan mendekat dan meletakan telur-telurnya pada sosog. Setelah itu, induk jantan akan membuainya dengan cara menyemprotkan sepermanya kadalam telur-telur tersebut.

Induk jantan akan membuat kembali sarang lain untuk betina lain. Pemijahan pertama biasanya biasanya akan berlangsung setelah sarang selesai di buat. Pemijahan dilakukan pada siang menjelang sore hari antara pukul 15.00-17.00. Pengeluaran telur oleh betina terjadi didepan sarang, sementara pembuaan oleh induk jantan di dalam sarang. Pemindahan telur kedalam sarang dilakukan oleh induk jantan dengan cara mengisap telur kedalam mulutnya, kemudian menyemprotkannya kedalam sarang untuk di buahi.

Keberhasilan pembuaahan dapat di amati dengan melihat permukaan air kolam. Jika tercium bau amis yang di ikuti dengan munculnya banyak miyak di permukaan air, berarti telah terjadi peruses pemijahan. Pemijahan akan terus berlangsung hingga betina selesai bertelur. Umumnya, proses pemijahan berlangsung selama tiga hari.

Jumlah telur yang dihasilkan oleh satu induk betina berkisar 5000-7000 butir, tergantung pada jenis gurami yang dipijahkan, keberhasilan pemijahan sangat di pengaruhi oleh kondisi perairan dan kualitas pakan yang di berikan. Suhu air yang optimum untuk menunjang keberhasilan pemijahan ialah 28 0C, dengan Ph air 6-7. Sebelum pemijahan dilakukan,selam dua minggu di kolam pemeliharaan, induk di beri makanan yang bermutu baik.

Pemeriksaan sarang yang suda berisi telur dapat dilakukan dengan cara merabah dan menggoyangkanya sarang secara berlahan atau dengan cara menusuk sarang menggunakan lidi atau kawat. Sarang yang suda berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak atau telur dari sarang ke permukaan air.

Pengambilan sarang dilakukan secara hati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang. Sebaliknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa baskom atau ember besar yang diisi air kolam pemijahan. Sarang diangkat berlahan-lahan dan di celupkan kedalam air yang suda di sediakan di dalam ember atau baskom. Tingkat kegagalan penetasnya sangat di pengaruhi oleh carah pengangkutaan sarang.

2.5 Penetasan Telur

Sarang yang telah diangkat dari kolam pemijahan dimasukan kedalam ember yang berisi air dan campuran Metheline Blue, dengan perbandingan 5cc obat untuk 5 liter air. Menurut pengalaman petan, kebanyakan telur yang busuk disebabkan oleh sarang yang berjamur atau kesalahan dalam pengangkutan yang mengakibatkan telur pecah atau rusak. Telur yang hidup biasanya berwarna kuning cerah atau bening trasparan, sedangkan telur yang gagal menetas berwarna putih suram dan tidak trasparan. Telur-telur yang mati harus disingkirkan agar tidak menular pada telur yang lainya.

Selanjutnya sarang dalam ember tersebut dibawa kedalam tempat penetasan. telur akan menatas dalam kurun waktu 41 jam, larva yang baru menetas posisi badanya terbalik, yakni bagian perut berda diatas, sedangkan bagian punggungnya dibawah, gerakannya hanya mampu berputar-putar. Hal ini akan terjadi selama empat sampai lima hari.Tahapan menetasnya telur gurami dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3: Tahapan penetasan telur gurame.

Keterangan:

1. Telur pada tahap 4 sel,20 menit setelah pembuahan

2. Tahap morula,90 menit

3. Tahap blastrula,5 jam 30 menit

4. Perkembangan awal embrio,6 jam 30 menit

5. Embrio pada tahap 8 myimere,8 jam 30 menit

6. Embrio dengan 15 myomere.10 jam 30 menit

7. Embrio dengan 23 myomere.12 jam

8. Embrio 24 myomere,saat sebelum menetas,14 jam 30 menit

Larva gurami menggunakan kuning telurnya sendiri untuk membentuk jaringan tubuh baruh seperti tulang, sisik, sirip, dan ekor. Kadar protein didalam pakan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ikan. Tempat penetasan sebaiknya berada di lingkungan yang tenang, karena telur tidak akan menetas jika sering kaget. Agar resiko kegagalan dalam penetasan bisa dikurangi, telur berwarna kuning keruh sebaiknya dibuang karena tidak akan menetas. Hanya telur yang berwarna kuning cerah yang akan menetas.

2.5.1 Penetasan di kolam pemijahan

Dahulu banyak petani yang menetaskan gurami di kolam penetasan yang sekaligus juga merupakan kolam pemijahan. Telur-telur yang telah di buahi induk jantan akan di jaga oleh induk betina sampai menetas. Gerakan induk betina di sekitar sarang akan menyebabkan bertambahnya oksigen terlarut didalam air, dan akan menghidupkan telur-telur yang dijaganya. Telur akan menetas menjadi larfa pada hari ke 11-12

2.5.2 Penetasan da dalam Paso atau Baskom

Paso adalah wadah yang terbuat dari tanah liat dengan volume air 10-20 liter. Paso sebaiknya di letakan dekat rumah atau tempat terbuka yang mendapat cukup sinar matahari. Paso dapat diganti dengan baskom atau ember. Namun, umumnya patani lebih suka menetaskan telur ikan didalam paso, karena dianggap tingkatkeberhasillanya lebih tinggi.

Telur yang berasal dari satu sarang di bagi dalam tiga paso. Setiap harinya dilakukan penggantian air sebanyak dua kali, yaitu pada pagi dan soreh hari. Jumla air yang diganti sebanyk setengah bagian air. Selain itu, telur-telur yang berjamur harus di buang. Biasanya pada hari ke 8-10 telur-telur yang baik sudah menetas semuanya.

2.5.3 Penetasan di dalam Aquarium

Penetsan didalam aquarium merupakan langka paling muktahir dalam menetaskan telur gurame. Cara ini diangngap palingh efektif karena pengontrolanya lebih ketat dan sarana pendukungnya amat memadai, sehingga tingkat keberhasilannya amat tinggi. Berikut ini persiapan yang harus dilakukan dalam penetasan telur gurame di dalam aquarium.

a. Persiapan wadah

- Akurium

Akurium yang di gunakan berukuran panjang 100 cm, dan tinggi 40 cm dengan ketebalan 5 mm. Jumlah aquarium yang di butuhkan tergantung dari larva yang akan di hasilkan. Idealnya, satu buah akuarium di isi tulur gurami sebanyak 2.500. Setelah menetas, benih tersebut dipisa-pisahkan. Benih yang berukuran sebesar gabah kepadatannya di kurangi menjadi sekitar 1.500 elor/aquarium, benih yang berukuran sebesar biji kuaci kepadatanya sekitar 1.000 ekor/akuarium, benih berukuran daun kelor sekitar 700 ekor/akuarium, benih yang berukuran silet 500 ekor/akuarium, dan benih yang berukuran korek sekitar 300 ekor/akuriumnya.

- Ember atau Baskom

Ember atau baskom di gunakan untuk sarana memindahkan telur dari kolam pemijahan ke akuarium penetasan atau untuk memindahkan larva dari akuarium penetasan ke akuarium atau kolam pendederan. Selain itu, ember atau baskom dapat di gunakan sebagai wadah pengurai dan penyucian telur yang baru diambil dari sarang, serta untuk menyortir benih.

- Bak Penampungan Air

Bak penempungan di gunakan untuk menampung dan mengendapkan air sebelum di tuangkan ke akuarium. Tujuannya agar air memiliki parameter air yang sesuai untuk budidaya gurame. Parameter tersebut berupa derajat keasaman (pH), tingkat kesadahan, dan oksigen terlarut.

b. Peralatan Pendukung

- Aerator

Aerator merupakan alat yang meniupkan udara kedalam Akuarium untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam air.Setiap akuarium membutuhkan suatu lubang aerator.Untuk menghemat biaya,sebaiknya menggunakan blower yang banyak memiliki lubang udara.

Batu Aerasi

Batu aerasi adalah alat yang berfungsi melarutkan udara yang di tiupkan selang kedalam akuarium. Alat ini di letakan di ujung selang dan di masukan kedalam akuarium. Penggunaan batu aerato bertujuan untuk menekan tingkat mortalitas larva yang di hasilkan, Selain itu, batu aerator juga berfungsi menambah arus air. Sehingga larva tidak terganggu hidupnya.

- Water Heather ( Pemanas Air )

Pemanas air digunakan saat suhu lingkungan berubah menjadi dingin. Water heather berfungsi sebagai penghangat air. Kondisi lingkungan yang dingin biasanya akan mengganggu kesehatan larva. Larva dapat terserang jammur atau velvet. Pada sehu renda, bakteri penyebap penyakit akan berkembang. Dengan demikian, nafsu makan ikan akan turun drastis pada suhu air yang hangat, selain akan membuat nafsu makan ikan meningkat, juga menbantu proses metabolisme.

c. Obat-obatan

Obat-obatan ini di siapkan untuk mencegah terjadinya jamur pada telur.Bahan aktif Methelin Blue berfungsi sebagai zat anti jamur,anti bakteri,dan jasad renik lainya.Bahan aktif ini juga dapat di gunakan untuk menghilangkan hama pada akuarium dan peralatan lainya.Sementara itu,antibiotik berguna untuk pengobatan luar pada tubu ikan yang sakit.

d. Ruang Penetasan Telur

Ruang penetasan telur sangat di butuhkan untuk melatakan akuarium penetasan.Ruang penetasan akuarium sebaiknya berukuran cukub besar agar dapat di isi beberapa akuarium.Bahan dinding ruangan diusahakan yang menyerap panas,antara lain bisa dibuat dari asbes atau fiberglas yang berwarna gelab agar cahaya matahari yang masuk tidak berlebihan sehingga telur-telur yang akan ditetaskan tidak terganggu.

BAB 4

Pemeliharaan Larva

Setalah telur menetas, larva dapat dipelihara di corong penetasan sampai umur enam hari. Jika penetasan dilakukan di akurium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan selam pemeliharaan, penggantian air akuarim perlu dilakukan untuk membersikan air dari minyak yang di hasilkan sewaktu penetasan. Untuk larva yang suda di beri makan, pergantian air dilakukan ketika suda terdapat banyak kotoran dan sisa pakan dari kotoran ikan. Kualitas air sebaiknya di pertahankan pada suhu 29-30 oC dan pH 6,5-8,0. Benih gurami yang baru menetas dan masih memiliki dapat di lihay pada gambar 4.

t

Gambar 4 : Larva gurame yang masih memiliki kuning telur.

Ruang pemeliharaan larva sebenarnya sama dengan ruang penetasan, tetapi dapat juga di buatkan dengan tersendiri yang khusus memelihara larva diharapkan tidak terlalu rapat, sehingga mampu menampung lebih banyak larva yang akan di besarka.

Atap ruangan pemeliharaan larva sebaiknya mengunakan bahan yang berwarna cerah, tetapi jangan terlalu tembus cahaya matahari karena dapat menggangu kehidupan larva. Dinding ruangan diplaster agar mudah di bersikan, sehingga lantai tidak lembab.

Fase larva merupakan masa kritis dalam daur hidup ikan sehingga tingkat kematian atau mortalitas pada fase ini sangat tinggi. Banyak faktor yang menyebapkan tingkat mortalitas pada fase larva menjadi tinggi mortalitas pada fase larva menjadi tinggi. Faktor penyebap tersebut dapat digolongkan dalam factor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut antara lain meliputi penyakit, hama, mutu air, cuaca dan pakan. Sementara faktor internal berasal dari proses perkembangan biologi larva sendiri .Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan beberapa tindakan dalam perawatan larva.

4.1 Pemberian Pakan Alami dan Buatan

Bagi larva, ketersedian pakan alami sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Kekurangan pakan alami dapat di tanggulangi dengan pemberian pupuk dan pakan tambahan atau buatan dalam bentuk pupuk atau tepung halus. Pakan untuk larva ini harus lebih kecil dibanding dengan bukaan mulut larva. Lebar bukaan mulut larva gurame sekitar 0,21 mm.

Untuk memperoleh bentuk dan ukuran pakan sesuai dengan lebar bukaan pakan sesuai dengan lebar bukaan mulut larva, pakan hidup diberikan sebelum larva mencapai dewasa, sedangkan untuk pakan mati atau buatan perlu di haluskan terlebih dahulu. Pakan alami merupakan menu utama selam tahap awal benih ikan, termaksut gurame. Jenis pakan alami yang umum dipakai dan muda di peroleh antara lain Moina, Daphnia, Chironomus, dan Tubifex.

Pakan alami dapat ditambahkan sebagai makanan ekstra atau menggantikan sebagai pakan buatan. Kalau pakan alami berfungsi sebagai pengganti ransum pakan buatan maka perbandingan yang disarankan adalah adalah 50-75% pakan alami dan 25-50% pakan buatan. Perbandingan tersebut terutama berlaku bagi benih yang bobotnya belum mencapai 0,5 g. Pemberian pakan alami dilakukan secarah bertahap, yaitu dimulai dengan saat kuning telur akan habis. Pemberian pakan alami yang efektif pada hari ke sepuluh setelah telur menetas. Jika pakan alami diberikan sebagai menu pokok maka besar ransumnya 20% (bobot kering) dari bobot ikan per hari dan diberika 2-3 kali.

4.2 Vaksinasi

Vaksinasi merupaakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat mertalitas larva. Vaksinasi dapat dilakukan padah benih guarame yang berumur lebih dari dua minggu. Jenis vaksin yang dapat diguakan misalnya septiceamia heamorrhagica yang menberikan kekebalan aktif pada penyakit bercak merah yang disebapkan bakteri aermonas hydrophila.

Caranya benih gurame direndam dalam lerutan faksin selam 30 menit dengan dosis 1 ml vaksin dicampur dalam 10 l air untuk 150 ekor benih. Vaksinasi ini telah mampu memberikan kekebalan selam empat bulan dengan masa inkubasi 15 hari.

4.3 Pengunaan Sumber Air yang Bersih

Faktor hama yang menyerang larva diantisipasi dan ditangulangi dengan pengguaan sumber air, seperti mata air, sumur bor, atau air hujan, yang relative bebas hama. Gangguan ini juga dapat dikurangi dengan mengunakan air media kultur yang telah disaring atau difilter.

4.4 Aerasi

Larva dan anak ikan sangat peka terhadap kekurangan oksigen. Kondisi tersebut disebapkan oleh alat pernafasan hal tersebut di karenakan alat pernafasan yang belum terbentuk dengan sempurna dan juga dipengaruhi juga oleh gerakan yang masih lamban. Untuk meningkatkan kandungan oksigen yang terlarut dalam air dilakukan peroses aerasi, yaitu dengan cara memasukan udara kedal air atau melemparkan butiran air ke udara. Untuk memasukan udara kedalam air dapat menggunakan aerator, blower, atau injector. Sementara itu, untuk melemparkan butir air ke udara dilakukan dengan mengunakan pengebut, seprotan, atau menjatukan air di permukaan batu. Penggunaan kincir berfungsi keduanya. Pada waktu baling-baling masuk kedalam air akan membawa udara dan pada waktu meninggalkan air akan melemparkan air ke udarah. Usaha penambahan oksigen terlarut dalam air dilakukanhanya pada saat kritis, yaitu menjelang matahari terbit atau pada waktu cuaca mendung. Namun, perlu diingat bahwa kelebihan oksigenn dalam air akan berdampak sama dengan kekuranga oksigen terhadap ikan terhadap ikan selain itu juga tidak ekonomis.

2.6.5 Pemberian Naungan

Faktor cuaca seperti suhu, angin, dan curah hujan menentukan keberhasilan hidup larva dan benih. Suhu tubuh ikan selalu menyamai suhu air di sekitarnya, yaitu sekitar 5 oC lebih tingi. Kemampuan tubuh ikan mengatur suhunya mempunyai batas maksimum dan minimum. Dalam waktu yang singkat, perubahan suhu lingkungan yang dapat diikuti oleh suhu tubuh ikan maksimum 5 oC. Usaha mengantisipasi perbedaan suhu yang terlalu besar di daera tropika adalah dengan mempergukan peneduh atu atap, sedangkan di daerah subtropika atau dingin dipakai penutup.

Perubahan suhu dengan perbedaan besar serta terjadi dalam waktu singkat menyebapkan tubuh ikan tidak dapat beradaptasi sehingga berakibat fatal.

Faktor angin juga berpengaruh terhadap kehidupan larva. Angin yang bertiup di permukaan air akan menimbulkan riaka atau gelombang yang akan menengelamkan larva gurami ke lapisan air lebih dalam. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi larva karena lapisan air yang lebih dalam mengandung lebih sedikit oksigen.

Cura hujan yang jatu langsung ke permukaan air juga dapat berakibat fatal bagi larva. Kematian larva karena factor ini di sebapkan oleh terhalangnya larava kepermukaan air karena titik-titik air, penurunan suhu air yang drastis, atau factor keduanya yang bekerja bersamaan. Oleh karena itu. Lokasi atau tempat pemeliharaan larva harus terlindungi.

2.7 Pemeliharaan Benih

Benih adalah larva gurami yang berumur 2,5 bulan dari hasil pemeliharaan dan sudah mencapai bobot 0,5 g/ekor. Selanjutnya benih tersebut dipelihara di dalam happa yang dipasang didalam bak atau kolam. Pemeliharaan benih di dalam happa dilakukan secara intensif. Happa biasanya dipasang dengan cara diikatkan pada tonggak-tongga bam boo yang dipasang pada kolam. Namun, disarankan memasang happa didalam bak khusus dari tembok agar pengawasan dan kualitas airnya dapat dikontrol. Sampai saat ini belum ada standar baku dalam penentuan ukuran benih gurame, bentuk dan ukuran dari benih gurami masih belum ditentukan seperti terlihat pada gambar 5.

Gambar 5: Benih gurame.

2.8 Pemeliharaan Benih di Dalam Happa

Teknologi pemeliharaan benih gurame secara intensif di dalam happa merupakan salah satu upaya pemeliharaan untuk memacu pertumbuhan dan menekan mortalitas (tingkat kematian) gurami. Halini dapat diperoleh dengan cara mengatur pola pemberian pakan sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengatur pemberian pakan dilakukan dengan cara memberikan pakan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulut benih dan periode pemberian disesuaikan dengan kebutuhan ikan. Untuk ikan ukuran benih biasanya pakan diberikan secara ad-libi-tum (sampai ikan benar-benar kenyang). Pemeliharaan intensif di dalam happa ini dilakukan untuk menekan tingkat kematian benih gurame yang cukup tinggi (50-75%) pada sistem pemeliharaan konfensional (Insan,2000). tingginya tingkat kematian pada pemeliharan konvensional antara lain disebabkan oleh pemberian pakan yang kurang memadai dan kondisi tempat pemeliharaan yang sulit dikontrol.

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam pembuatan paper ini bahwa ikan gurami merupakan ikan yang dapat berbiak secara alami, mudah dipelihara kerena bersifat pemakan apa saja, dan dapat hidup di air tergenang. Selain itu, harganya relatif mahal serta gurame memiliki organ pernafasan tambahan sehingga dapat mengambil oksigen dari luar air.

Untuk memperoleh benih gurame yang berkualitas kita harus mempelejari dan menerapkan sistem penyiapan benih yang baik. Dengan pemilihan induk yang berkualitas untuk dipijahkan. Dan melakukan perawatan yang baik pada induk agar dapat menghasilkan telur yang baik, serta perawatan pada larva dan benih gurame yang baik pula sehingga benih yang kita hasilkan lebih berkualitas. Dan mempunyai sintasan yang tinggi.